“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan
untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang ma’ruf, dan mencegah dari
yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah
itu lebih baik bagi mereka. Diantara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan
mereka adalah orang yang fasik.” (TQS. Ali Imran : 110)
Begitu tinggi pujian Allah bagi umat muslim. Tidak hanya
pada ayat ini, banyak ayat lain yang juga menunjukkan bahwa Allah memberikan
predikat tertinggi bagi umat Islam. Kaum Muslimin dijadikan sebagai Khalifah
Allah di muka bumi untuk menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar
serta untuk menjaga bumi ini. Agar umat muslim bisa menjalankan tugasnya, Allah
juga telah memberikan bekal berupa aturan-aturan yang menuntun kita dalam
menjalani kehidupan ini.
Menjadi cendekia sejati
Islam sebagai agama yang sempurna, tidak hanya berkutat
seputar masalah hubungan manusia dengan Rabb-nya seperti sholat, zakat, puasa,
haji, dan bersuci; ataupun hubungan manusia dengan dirinya sendiri semisal
akhlak; namun juga mengatur hubungan manusia dengan manusia yang lain seperti aturan
pergaulan, bermasyarakat, jual beli atau ekonomi, pendidikan, bahkan bernegara
dan berpolitik. Dan semua hal ini, saling terkait membentuk satu kesatuan
sebagai sebuah sistem kehidupan yang paripurna.
“Maka demi Rabb-mu, mereka itu (pada hakikatnya) tidak
beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim (pemutus)
atas segala permasalahan yang timbul diantara mereka, kemudian tidak ada rasa
keberatan di hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka
menerima (pasrah) dengan sepenuhnya.” (TQS. An-Nisa’ : 65)
“Sesungguhnya orang-orang yang ingkar kepada Allah
dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud membeda-bedakan antara (keimanan kepada)
Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan, ‘Kami beriman kepada sebagian dan
kami mengingkari sebagian yang lain.’ serta bermaksud mengambil jalan tengah
(iman atau kafir). Merekalah orang-orang kafir yang sebenarnya. Dan Kami
sediakan untuk orang-orang kafir itu azab yang menghinakan. Adapun orang-orang
yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan tidak membeda-bedakan di
antara mereka (para Rasul), kelak Allah akan memberikan pahala kepada mereka.
Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (TQS. An-Nisa’ : 150-152)
“Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin,
dan wanita yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu
keputusan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Dan
barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia telah
tersesat, dengan kesesatan yang nyata.” (TQS Al-Ahzab : 36)
Karena itu, sejatinya memperjuangkan Ekonomi Islam, Politik
Islam, ataukah Pendidikan Islam, adalah perjuangan untuk menerapkan Islam
secara keseluruhan tanpa mengabaikan satu pun aspek darinya.
Perjuangan untuk Ekonomi Islam
Pembahasan tentang perjuangan untuk Islam saya kutip dari
pidato dari Syaikh Abu Khalil Ibrahim Utsman, Juru Bicara Hizbut Tahrir, pada
Konferensi Ekonomi Internasional di Khartoum, Sudan 7 Muharram 1430:
Implementasi sistem ekonomi Islam dalam negara
Khilafah tidak tergantung pada “suasana hati” atau kecenderungan penguasa, akan
tetapi yang menentukan adalah implementasi sistem yang diamanahkan Allah SWT.
atas dasar takwa, serta keadilan hukum-hukum yang berlaku didalamnya.
Bukankah sudah tiba saatnya bagi manusia untuk berdiri,
berjuang, dan melaksanakan amanah yang diberikan Allah SWT untuk mewujudkan
kehidupan yang aman dan sejahtera, serta bebas dari krisis?
Dapat dikatakan bahwa sistem ini adalah sistem yang adil,
fair, dan aman. Akan tetapi, sistem ini masih tersembunyi dibalik
lembaran-lembaran buku, sedangkan mendirikan Negara Khilafah adalah sebuah
tugas raksasa, atau paling tidak tugas yang sangat sulit. Lalu, mengapa kita
harus mempersulit diri untuk memetik buah yang masih menggantung di cabang
pohon yang sangat tinggi, dan menanggung risiko yang tidak ringan? Mengapa kita
tidak cukup menunggu buah yang jatuh, memungutnya, membersihkannya dari tanah
dan dari kotoran yang melekat, menutup mata jika masih ada kotoran yang
tersisa, baru kemudian kita dapat memakannya? Bukankah yang demikian itu sama
saja?”
Mengenai pandangan bahwa mengimplenentasikan sistem
ekonomi Islam dalam Negara Khilafah adalah sebuah usaha yang sulit, bahkan
mustahil, maka dapat dikatakan, bahwa kenyataannya bukanlah demikian. Tegaknya
sistem ekonomi Islam dalam Negara Khilafah bukanlah suatu hal yang mustahil.
Sebaliknya, Khilafah insya Allah akan segera berdiri.
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang beriman
diantara kamu dan mengerjakan amal salih bahwa Dia sungguh-sungguh akan
menjadikan mereka berkuasa di bumi ini, sebagaimana Dia telah menjadikan
orang-orang sebelum mereka berkuasa. Dan sungguh Dia akan meneguhkan agama yang
telah diridlai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar keadaan
mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka
akan tetap menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Ku.
Dan barang siapa yang tetap kafir sesudah janji itu, maka mereka termasuk
orang-orang yang fasik” (TQS.an-Nur : 55)
Adapun pilihan mencukupkan diri dengan memungut
buah yang jatuh, membersihkannya, dan memakannya, maka sesungguhnya sikap ini
tidak berbeda dengan sikap kaum kapitalis, yang membiarkan Kapitalisme terus
diimplementasikan, dan mencukupkan diri dengan membersihkan kotoran-kotoran yang
menyelimutinya, menutup mata dengan kotoran yang tersisa, kemudian memakannya.
Yang demikian ini bukanlah sikap seorang Muslim yang menginginkan kebaikan di
dunia dan di akhirat. Demikian juga, sikap semacam itu bukanlah sikap
orang-orang yang berfikir dan berjuang untuk mewujudkan keadaan yang lebih
baik.
Telah jelas keagungan sistem ekonomi Islam, yang menjamin
kehidupan ekonomi seluruh rakyatnya di bawah naungan Negara Khilafah. Siapa
saja yang mengikuti jalan yang lurus, dan terus berjuang untuk menegakkan
kebenaran, maka mereka akan mendapatkan rahmat-Nya. Dan siapa saja yang memilih
sistem lain selain sistem Islam, maka Anda akan melihat mereka mendapatkan
kesulitan dan penderitaan di dunia, serta siksa di akhirat kelak. Allah Swt
berfirman:
“Maka datang kepadamu petunjuk dari-Ku, lalu barang siapa
yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan celaka. Dan barang siapa
yang berpaling dari peringatan-peringatan-Ku maka sesungguhnya baginya
kehidupan yang sempit, dan pada Hari Khiamat akan dikembalikan dala keadaan
buta.” (TQS. Thaha : 123-124)
Untuk AcSES dan FoSSEI
AcSES dan FoSSEI merupakan sebuah contoh perkumpulan para
cendekia yang berjuang untuk membumikan Ekonomi Islam. Namun baik AcSES maupun
FoSSEI tidak ada artinya tanpa adanya kontribusi dari para cendekia yang
unggul, yang dengan sepenuh hati memahami dan memperjuangkan agamanya.
Dengan mempelajari Islam secara menyeluruh, keyakinan bahwa
agama yang kita perjuangkan adalah agama yang benar, tidak ada keraguan lagi
didalamnya, akan tumbuh; serta kita akan terhindar dari pemikiran-pemikiran
yang mencoba menyesatkan kaum muslimin dari jalan Rabb-nya.
Perjuangan selanjutnya adalah mengajak umat Islam agar
kembali memegang teguh agamanya. Kemenangan umat muslim sama artinya dengan
kesejahteraan umat manusia baik bagi umat Islam maupun Non Islam, karena Islam
adalah rahmat bagi seluruh alam.
Jadi, masihkah kita ragu akan kemenangan Islam ini?
Bagaimana dengan Anda? Siapkah Anda menjadi penjaga Islam yang setia? Siapkah
Anda optimal dan Ikhlas dalam setiap aktivitas dakwah Anda? Siapkah Anda
mengesampingkan kepentingan individu Anda demi dakwah Islam ini? Jika jawaban
Anda “SIAP” dengan mantap maka nantikanlah ….bahwa SURGA telah nampak jelas di
depan Anda dengan sambutan para malaikat penjaganya. Tetapi jika Anda
menjawabnya dengan ragu-ragu atau bahkan jawaban Anda “TIDAK SIAP”, maka
sungguh kemenangan Islam akan tetap terwujud dengan izin Allah dan Anda hanya
menjadi PENONTONNYA.
…………………………………………………………….
“ Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui
bahwa hati-hati ini telah berkumpul untuk mencurahkan mahabbah hanya kepada-Mu,
bertemu dalam rangka menyeru (dakwah di jalan)-Mu, dan berjanji setia untuk
membela syariat-Mu maka kuatkanlah ikatan pertaliannya, ya Allah, abadikanlah
kasih sayangnya, tunjukkanlah jalannya, dan penuhilah dengan cahaya-Mu yang
tidak akan pernah redup, lapangkanlah dadanya denga limpahan iman dan keindahan
tawakal kepada-Mu, hidupkanlah dengan Ma’rifah-Mu, dan matikanlah dalam keadaan
syahid di jalan-Mu. Sesungguhnya Engkau sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik
penolong. Amin. Dan semoga shalawat serta salam selalu tercurahkan kepada
Muhammad, kepada keluarganya, dan kepada semua shahabatnya.”
……………………………………………………………................
Tugas SMART 2
by Desi Purnamasari N
Ekonomi Pembangunan FEB UNAIR 2010
Sekretaris I AcSES










0 komentar:
Posting Komentar
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !