Oleh
AL Ustadz Abu Abdillah Muhammad Yahya
Masalah
siapa yang lebih utama antara si kaya yang bersyukur dan si fakir yang bersabar
adalah masalah yang banyak dibicarakan oleh manusia. Sebagian mereka menulis
tentangnya. Syaikhuna Ahmad bin Yahya An-Najmi hafizhahullah berkata :
Diantara
penulis yang kami ketahui yang membahas masalah ini dalam kitab tersendiri
adalah Al Allamah Ibnul Qayyim rahimahullah.
Dia menulis sebuah kitab yang berjudul uddatush-shaabirin
wa dzakhiratusy-syaakirin. Dan Ash-Shan'ani rahimahullah juga menulis sebuah kitab yang
berjudul as-saiful baatir fil
mufadhalah bainal faqiirish-shaabir wal ghaniyyi asy-syakir, dia
menyebutkannya di dalam Al
Uddah seraya mengatakan
bahwa dia meringkasnya dari karya Ibnul Qayyim dan berkata : "Ini adalah
kitab yang luar biasa, tidak ada tandingannya. Kami menyusunnya di Makkah pada
tahun 1135 H".
Diantara
argumen yang digunakan untuk mengunggulkan kedudukan si fakir yang bersabar
daripada si kaya yang beryukur adalah firman Allah Ta'ala :
] أُولَئِكَ يُجْزَوْنَ
الْغُرْفَةَ بِمَا صَبَرُوا [ (الفرقان: مِن الآية75).
Artinya
: Mereka itulah orang yang dibalas dengan martabat yang tinggi (dalam surga)
karena kesabaran mereka.
Muhammad
bin Ali bin Al Husain berkata : "Kata ghurfah berarti syurga. Dan kalimat bimaa shabaruubermakna karena
kesabaran mereka terhadap kefakiran di dunia.
Dan
diantaranya adalah bahwa
kaum fuqara' akan masuk kedalam syurga mendahului kaum kaya setengah hari
(sebelum mereka), setengah hari sebanding dengan 500 tahun (waktu di dunia).
Dan terdapat riwayat dengan 40 kali musim gugur. Sehingga kaum kaya muslimin
berangan-angan bahwa seandainya mereka dahulu termasuk kaum fuqara'.
Dan
diantaranya adalah bahwa
tidaklah Allah menyebutkan tentang dunia melainkan dengan celaan. Terkadang
Allah menyebutkan tentang harta yang merupakan sebab bertindak melampaui batas,
sebagaimana firman Allah Ta'ala :
]
كَلَّا إِنَّ الْأِنْسَانَ لَيَطْغَى $ أَنْ رَآهُ
اسْتَغْنَى [ (العلق:6-7).
Artinya
: Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia
melihat dirinya serba cukup.
Dan
terkadang Allah menyebutkan bahwa harta merupakan sebab kedurhakaan. Allah Ta'ala berfirman :
]
وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا
فِي الْأَرْضِ [ (الشورى: مِن الآية27).
Artinya
: Dan jikalau Allah melapangkan rizki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka
akan durhaka di muka bumi.
Dan
terkadang Allah menyebutkan bahwa harta merupakan fitnah :
]
إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلادُكُمْ فِتْنَة [
(التغابن: مِن الآية15).
Artinya
: Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah fitnah (bagimu).
Dan
terkadang Allah menyebutkan bahwa harta dan anak tidak membantu untuk
mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala :
]
وَمَا أَمْوَالُكُمْ وَلا أَوْلادُكُمْ بِالَّتِي
تُقَرِّبُكُمْ عَندَنَا زُلْفَى إِلَّا مَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحاً [ (سـبأ: مِن
الآية37).
Artinya
: Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kalian yang
mendekatkan kalian kepada Kami sedekat-dekatnya; kecuali orang-orang yang
beriman dan mengerjakan amal-amal saleh.
Dan
diantara argumen yang digunakan untuk mengunggulkan kedudukan si fakir yang
bersabaradalah bahwa Nabi dipilih oleh Allah dalam keadaan fakir.
Sesungguhnya telah ditawarkan kepada beliau kunci-kunci khazanah bumi, tetapi
beliau menolaknya seraya berkata :
((بَلْ أَجُوْعُ يَوْماً وَأَشْبَعُ يَوْماً، فَإِذَا جُعْتُ
تَضَرَّعْتُ إِلَيْكَ وَذَكَرْتُكَ، وَإِذَا شَبِعْتُ حَمِدْتُكَ وَشَكَرْتُكَ)).
Artinya
: "Bahkan saya lapar sehari dan kenyang sehari. Apabila saya lapar, maka
saya merendahkan diri kepada-Mu dan mengingat-Mu. Dan apabila saya kenyang,
maka saya memuji-Mu dan bersyukur kepada-Mu".
Ini
adalah kesimpulan pendapat mereka yang mengunggulkan orang fakir yang bersabar.
Pendapat
tersebut telah disanggah oleh mereka yang mengunggulkan si kaya yang bersyukur
dengan dalil-dalil yang dibawakan oleh mereka yang mengunggulkan si fakir yang
bersabar. Kemudian mereka berkata :
Adapun
ayat yang (kalian bawakan), maka
tidak ada keterangan yang mendukung pendapat kalian padanya, sebab kesabaran di
dalam ayat tersebut umum, mencakup seluruh macam kesabaran. Ia mencakup :
-
sabar untuk tidak melanggar yang diharamkan bagi yang memiliki kesempatan untuk
melakukan keharaman tersebut dengan hartanya,
-
sabar dalam menjalankan ketaatan,
-
sabar dalam menerima berbagai macam cobaan, seperti sakit, musibah, kefakiran,
desakan kebutuhan dan selainnya.
Adapun
tentang masuknya kaum fuqara' kedalam syurga, maka tidak serta merta
hal tersebut menunjukkan berkurangnya derajat si kaya, bahkan bisa jadi si kaya
yang belakangan masuk syurga, lebih tinggi derajatnya daripada si fakir yang
mendahuluinya masuk syurga.
Adapun
celaan Allah terhadap dunia dan harta, sesungguhya celaan tersebut hanya
berlaku pada orang yang membelanjakan hartanya dalam bermaksiat kepada Allah.
Sedangkan orang yang membelanjakan hartanya di dalam ketaatan kepada Allah,
maka yang demikian adalah terpuji. Allah Subhanahu
Wa Ta'ala berfirman :
]
وَالَّذِينَ فِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَعْلُومٌ $
لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ [ (المعارج:24-25).
Artinya
: Dan orang-orang yang di dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang
(miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau
meminta).
Dan
Allah Ta'ala berfirman :
]
فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى $ وَصَدَّقَ
بِالْحُسْنَى $ فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى [ (الليل:5-7).
Artinya
: Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan
membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan
baginya jalan yang mudah.
Adapun
tentang Nabi shalallahu 'alaihi wasallam, maka Allah telah menghimpun bagi
beliau antara kedudukan kaya bersyukur dan fakir bersabar. Berapa banyak harta
yang datang kepada beliau, namun beliau'alaihish-shalatu was-salam enggan menerima dan menafkahkannya di
dalam ketaatan kepada Allah Ta'ala.
Dan
diantara dalilnya adalah bahwa sesungguhnya dahulu Nabi shalallahu 'alaihi
wasallam menjamu setiap tamu yang datang pada tahun-tahun terakhir setelah fathu Makkah, padahal jumlah mereka banyak.
Bersama itu beliau wafat dalam keadaan baju perang beliau digadaikan kepada
seorang Yahudi dengan 30sha' gandum
sebagai nafkah bagi keluarga beliau.
Sementara
diantara dalil yang mengunggulkan si kaya yang bersyukur daripada si fakir yang
bersabar adalah hadits
:
عَنْ سُمَيٍّ مَوْلََى أَبِي بَكْرٍ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ
بْنِ الحَارِثِ بْنِ هِشَامٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ السَّمَّان عَنْ أَبِيْ
هُرَيْرَةَ t أَنَّ فُقَرَاءَ المُسْلِمِيْنَ أَتَوْا رَسُوْلَ اللهِ e فَقَالُوْا :
يَا رَسُوْلَ اللهِ، ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُوْرِ بِالدَّرَجَاتِ العُلَى
وَالنَّعِيْمِ المُقِيْمِ، قَالَ : وَمَا ذَاكَ ؟ قَالُوْا : يُصَلُّوْنَ كَمَا
نُصَلِّي، وَيَصُوْمُوْنَ كَمَا نَصُوْمُ، وَيَتَصَدَّقُوْنَ وَلاَ نَتَصَدَّقُ،
وَيُعْتِقُوْنَ وَلاَ نُعْتِقُ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ e : أَفَلاَ أُعَلِّمُكُمْ شَيْئاً
تُدْرِكُوْنَ مَنْ سَبَقَكُمْ، وَتَسْبِقُوْنَ بِهِ مَنْ بَعْدَكُمْ، وَلاَ
يَكُوْنُ أَحَدٌ أَفْضَلَ مِنْكُمْ إِلاَّ مَنْ صَنَعَ كَمَا صَنَعْتُمْ ؟!
قَالُوْا : بَلَى يَا رَسُوْلَ اللهِ، قَالَ : تُسَبِّحُوْنَ وَتُكَبِّرُوْنَ
وَتَحْمَدُوْنَ دُبُرَ كُلِّ صَلاَةٍ ثَلاَثاً وَثَلاَثِيْنَ مَرَّةً...
قَالَ أَبُوْ صَالِحٍ : فَرَجَعَ فُقَرَاءُ المُهَاجِرِيْنَ
فَقَالُوْا : سَمِعَ إِخْوَانُنَا أَهْلُ الأَمْوَالِ بِمَا فَعَلْنَا فَفَعَلُوْا
مِثْلَهُ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ
e : ذَلِكَ فَضْلُ اللهِ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَشَاءُ.))([1]).
Dari
Sumayyin maula Abu Bakar bin Abdurrahman bin Al Harits bin Hisyam dari Abu
Shalih As-Samman dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu :
"Bahwa
kaum fuqara' muslimin mendatangi Nabi shalallahu 'alaihi wasallam, kemudian
mereka berkata : Wahai Rasulullah, orang-orang kaya telah pergi dengan membawa
derajat yang tinggi dan kenikmatan yang kekal (di syurga).
Rasulullah
shalallahu 'alaihi wasallam bertanya : "Mengapa demikian ?"
Mereka
menjawab : "Mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka berpuasa
sebagaimana kami berpuasa, mereka bisa bersedekah sementara kami tidak bisa dan
mereka bisa memerdekakan budak sementara kami tidak bisa".
Maka
Rasulullah shallahu 'alaihi wasallam bersabda : "Bukankah saya ajarkan
kepada kalian sesuatu yang dengannya kalian dapat menyamai orang-orang sebelum
kalian dan kalian mendahului orang-orang setelah kalian serta tidak ada
seorang-pun yang lenih utama dari kalian kecuali dia melakukan apa yang kalian
lakukan ?!"
Mereka
menjawab : "Betul wahai Rasulullah".
Rasulullah
bersabda : "Kalian bertasbih, bertakbir, dan bertahmid setiap selesai
shalat 33 kali…".
Abu
Shalih berkata : Kemudian kaum fuqara' Muhajirin kembali, lalu berkata :
"Saudara-saudara kami orang-orang kaya mendengar apa yang kami lakukan,
kemudian mereka melakukan hal serupa".
Maka
Rasulullah shallahu 'alaihi wasallam bersabda : "Itulah keutamaan Allah
yang diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya".
Ash-Shan'ani
berkata di dalam Al Uddah :
"Dia
berkata : Barangsiapa mengunggulkan si kaya yang bersyukur daripada si fakir
yang bersabar, maka kami memiliki dalil-dalil yang sangat banyak dan kata-kata
baik yang menyeluruh :
Pertama
: Bahwa Allah
memuji di dalam kitab-Nya berbagai amal perbuatan yang tidak bisa dilakukan
kecuali oleh orang-orang kaya, seperti :
-
zakat,
-
menafkahkan harta di dalam berbagai amal kebajikan,
-
jihad fi sabilillah,
-
membekali para pejuang,
-
memperhatikan orang-orang yang membutuhkan,
-
membebaskan budak,
-
memberikan bantuan di masa paceklik.
Dimana
letak kesabaran si fakir dibanding dengan kebahagiaan orang yang terdesak
kebutuhan yang bisa membinasakan dirinya (setelah mendapatkan nafkah dari si
kaya) ?
Dimana
letak kesabaran si fakir dibanding dengan manfaat yang diberikan oleh si kaya
dengan hartanya untuk menolong agama Allah, meninggikan kalimatullah dan mematahkan musuh-musuh-Nya
?
Dimana
letak kesabaran ahlus-Shuffah (para Shahabat yang fakir yang tinggal
di serambi masjid Nabi shalallahu 'alaihi wasallam ) dibanding dengan nafkah
Utsman radhiyallahu 'anhu untuk memenuhi berbagai kebutuhan, sampai Nabi
shalallahu 'alaihi wasallam bersabda :
((مَا ضَرَّ عُثْمَانَ مَا عَمِلَ بَعْدَ اليَوْمِ)).
Artinya
: "Tidak ada yang membahayakan Utsman, apa yang dia lakukan setelah hari
ini".
Mereka
berkata : Orang-orang
kaya yang bersyukur merupakan sebab ketaatan kaum fuqara yang bersabar, dengan
memberikan bantuan sedekah kepada mereka, berbuat baik kepada mereka dan
memperhatikan ketaatan mereka. Maka mereka mendapatkan bagian yang besar dari
pahala-pahala kaum fuqara' ditambah dengan pahala mereka sendiri dengan
memberikan nafkah (kepada kaum fuqara') dan ketaatan mereka. Hal ini
sebagaimana yang tersebut dalam hadits yang dikeluarkan oleh Ibnu Khuzaimahrahimahullah dari hadits Salman radhiyallahu 'anhu
secara marfu' :
((مَنْ فَطَّرَ صَائِماً كَانَ مَغْفِرَةً لِذُنُوْبِهِ،
وَعِتْقَ رَقَبَتِهِ مِنَ النَّارِ، وَكَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ مِنْ غَيْرِ
أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَجْرِهِ شَيْءٌ)).
Artinya
: "Barangsiapa yang memberikan ifthar kepada yang berpuasa, maka yang
demikian itu adalah penghapus dosa-dosanya dan pembebas dirinya dari neraka dan
dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang diberi ifthar tanpa mengurangi sedikit-pun
pahalanya.
Si
kaya yang bersyukur ini mendapatkan pahala seperti pahala yang didapat oleh si
fakir dengan jamuan yang diberikan kepadanya.
Mereka
berkata : Keutamaan-keutamaan
bersedekah telah diketahui besarnya dan manfaatnya tidak terhitung jumlahnya.
Dan inilah diantara buah si kaya yang bersyukur". Selesai dari Al Uddah 3/88 karya Ash-Shan'ani dengan sedikit
perubahan.
Ini
adalah kesimpulan dari hujjah yang digunakan oleh kedua kubu. Dan jelaslah dari
yang telah kami paparkan, keunggulan si kaya yang bersyukur daripada si fakir
yang bersabar. Dimaklumi
bahwa tidak ada tempat bagi orang fakir yang tidak bersabar dan orang kaya yang
tidak bersyukur di dalam perbandingan keutamaan disini.










0 komentar:
Posting Komentar
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !