slide

ASSALAMUALAIKUM

Wellcome to Our World

Profil AcSES

http://acsesfebunair-ksei.blogspot.co.id/search/label/Profil%20AcSES

---->Klik untuk membuka profil AcSES

Ekonomi Islam

---->Klik untuk berkenalan dengan ekonomi islam

AcSES News

---->Klik untuk membuka Informasi tentang agenda kami

FoSSEI News

---->Klik untuk membuka Informasi tentang agenda Forum Silaturahmi Studi Ekonomi Islam

IE News

---->Klik untuk membuka Informasi terkini tentang perkembangan Indeks Syariah dan Unit Usaha Syariah

Call For Paper

---->Klik untuk mencari tahu tentang lomba paper terbaru

"/>

Shariah Group Discussion

---->Klik untuk berdiskusi bersama masalah ekonomi Islam

Our Idea

---->Klik untuk menemukan gagasan-gagasan terbaik kami

"/>

Download

---->Klik untuk mendownload file-file kami

Tampilkan postingan dengan label Acsesor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Acsesor. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 Februari 2016

Small Group Discussion Acses 2016

Assalamualaykum AcSESors....
Semoga senantiasa dilindungan Allah.
Semester baru sudah tiba, sudah saatnya kuliah. Sudah saatnya juga SGD dimulai.

SGD? Small group Discussion adalah salah satu proker HRD sebagai tempat AcSESors untuk sharing, curhat, kenal lebih dekat tentang AcSES dan juga ekonomi syariah. Akan ada mentor yang kece badai,
materi yang menginspirasi,
So.... Jangan lupa ikut ya, WAJIB
Ini untuk penilaian keaktifan AcSESors juga
Check your name
Pada file di sini ini yaaa

Data SGD

atau ada di bawah halaman ini (versi web)

Cp : Arinda 085733531383

Senin, 28 September 2015

Mengenal Khoirul Zadid Taqwa, Salah satu Presnas Fossei 2015







PRESNAS


1. Apakah presidium nasional fossei, menurut anda?

+
Yaitu orang-orang yang terpilih untuk memimpin FoSSEI Nasional sesuai dengan amanat Munas dan AD/ART

2.Apakah sebelum ini anda memiliki cita-cita untuk menjadi presnas?

+
Tidak, selama ini hanya memiliki visi berkontribusi sebesar mungkin bagi dakwah ekonomi Islam

3. Bagaimana perasaan anda ketika ditunjuk menjadi salah satu presnas fossei 2015?

+
Terharu atas kepercayaan rekan-rekan serta beratnya tantangan ke depan dalam mengarungi laut merah ekonomi syariah

4. Apa saja tugas anda sebagai presidium nasional fossei?

+
Memimpin gerak FoSSEI dalam merajut ukhuwah dalam dakwah bernuansa ilmiah sesuai amanat munas.

5. Apa motivasi anda untuk mencalonkan diri menjadi presnas?
+Motivasi saya adalah karena besarnya pengalaman saya selama di FoSSEI sehingga mendorong saya untuk berkontribusi lebih besar lagi untuk membumikan Islam di bidang ekonomi

6. Siapa tokoh fossei yang memotivasi anda untuk menjadi presnas?
+Syahid Irfan Mubarak

7. Siapakah orang yang paling mendukung anda untuk menjadi presnas?
+kak Vita Fatimatuzzahra

8. Bagaimana langkah-langkah untuk bisa mencalonkan diri menjadi presnas ?

+
sesuai dengan ketentuan AD/ART bahwa calon presnas adalah perwakilan KSEI yang diajukan saat Musyawarah Regional (MUREG) kemudian mengikuti alur pencalonan Presidium Nasional saat Musyawarah Nasional (MUNAS) FoSSEI.


10. Mengapa tugas presnas tahun ini disamaratakan?

+
karena melihat kebutuhan FoSSEI yang membutuhkan gerak cepat sehingga menuntut tim presnas
ahli dalam segala bidang.

11. Siapa yang pertama kali menggagasnya?

+
Founder FoSSEI dan Korps Alumni FoSSEI

12. Bagaimana sistem pemilihan presnas ?

+
musyawarah dewan formatur

12. Bagaimana sistem kerja presnas yang baru ? Efektifkah dengan 5 pemimpin?

+
Menjadi sebuah tantangan yang baru karena akan mengubah sistem organisasi yang telah tertanam kuat selama lebih dari lima tahun. Efektif karena untuk memenuhi kebutuhan KSEI yang beragam dan tersebar di seluruh tanah air.

13. Apa langkah presnas untuk memperkuat tali silaturahmi antar ksei ?

+
melalui forum-forum ilmiah tingkat nasional dan pendekatan regional

14. Apa kebijakan terbaru presnas fossei tahun ini?

+
yaitu sosialisasi bentuk organisasi fossei yang baru, sistem kajian modern, serta penguatan kaderisasi dan keilmuan melalui penertiban administrasi

15. Apa saja agenda terdekat fossei tahun ini?

+
SUSPIMNAS (Kursus Pimpinan Nasional)


PERSONAL

1. Apa motto hidup anda ?

 +
Kebaikan tidak mengenal dualisme

2. Surat apa yang paling anda senangi dalam Al-Quran? Mengapa?

+
Al Fajr, sebab memberikan berbagai harapan rizki serta pintu surga

3. Siapakah anda menurut anda sendiri ?

+ Ses
eorang yang tidak sempurna, berangkat dari anti sosial dan kehidupan yang tidak memiliki orientasi, hingga selalu bersemangat untuk disempurnakan.

4. Siapakah orang yang paling memotivasi anda ? Mengapa?

+
Rasulullah, karena beliau adalah pembawa risalah Islam yang penuh hikmah

5. Sejak kapan anda mengikuti fossei ?

+ S
ejak mahasiswa baru menjadi staff RnP AcSES, kemudian saat liburan semester dua menjadi Sekretaris HRD FoSSEI Jatim. Saat memasuki semester tiga menjadi kepala divisi HRD AcSES. Kemudian saat liburan semester empat menjadi coordinator FoSSEI regional Jawa Timur. Per 12 September dia resmi menjadi Presidium Nasional FoSSEI

6. Siapakah tokoh yang paling anda idolakan di fossei ?

+
Pak Ali Sakti, Pemaknaan Islam yang komperhensif disertai keilmuan Islam yang mendalam kemudian dilaksanakan dengan penuh tekad dan ikhlas.

7. Siapa saja teman dekat anda di fossei ?

+
Bang Rahmat Arafah, Kak Vita Fatimatuzzahra,BPH AcSES 2013-2014
+ Regional: Ahmad Hambali, Ardian Wahyudi, Dilla Nur Fadhillah BPH FoSSEI Jatim 2013-2014, BPH FoSSEI Jatim 2014-2015
Nasional: Kabinet nasional 2013-2015




Senin, 14 September 2015

SMART II AcSES: Membakar Semangat


Merajut api semangat dalam bingkai kebersamaan,
tumbuh melalui langkah-langkah kecil dalam keberagaman,
melandaskan keteguhan hati,
tanggung jawab dan cita dalam memaknai arti perjuangan.

Suatu organisasi tak luput dari berbagai macam bentuk rintangan dan halangan yang dapat meredupkan lentera solidaritas dan ukhuwwah. Alasan-alasan kuno sering digunakan untuk memutuskan tali silaturahmi dalam organisasi ketika. Akibatnya organisasi tak lagi kondusif, hanya tinggal nama dan bendera. Jika sudah seperti itu, aneh rasanya jika berharap organisasi dapat maju.

Kelompok studi ekonomi islam – acses (Ksei-AcSES) menolak hal tersebut. Setiap tahunnya AcSES mengadakan acara SMART untuk membekali para acsessor baru dengan warisan semangat. SMART diadakan dalam dua tahap setiap tahunnya. Di awal semester ganjil acses telah mengadakan SMART I. Dan pada semester genap ini, acses mengadakan SMART II dengan tema “Knowing Yourself”.

SMART II diadakan di pondok pesantren darul falah, kec. Lawang, kab. Malang. Perjalanan ditempuh kurang lebih selama tiga jam dengan menggunakan kereta api “tumampel” Surabaya-lawang.
Di dalam kereta api, Mas Imam dan AcSESor lainnya memanfaatkan waktu luang dengan diskusi masalah ekonomi islam. Diskusi tersebut juga membahas bab tauhid dan ma’rifat.

Tak terasa, kereta api berhenti. Kami melanjutkan perjalanan dengan angkot ke lokasi  tujuan. Di pondok Darul Falah nuansanya masih asri dan sangat nyaman. Kami langsung terhenyut oleh hangatnya bantal dan terbawa mimpi.

Keesokan harinya kami sholat tahajud dan sholat subuh berjamaah. Kemudian senam pagi dan jalan-jalan bersama. Kemudian kami memasuki segmen division time. Masing-masing manajer divisi di setiap divisi berturut-turut memberikan kami tantangan. Manajer divisi RnP (Research and Paper), Mas Zeqi dan mbak Jannah memerintahkan kami untuk membuat judul paper yang paling menarik kemudian 
mempresentasikannya di depan kelompok. Manajer divisi Science, mas Arikha memerintahkan kami untuk menyelesaikan beberapa kasus dalam akad ekonomi islam. Manajer divisi PRnCOM (Public Relation and Communication), mas Rofi’i dan mbak Tiwi memberikan kompetisi desain ayat-ayat al-qur’an pada kami. Manajer divisi IB (Islamic Business), mas Pito dan mbak Riga memberikan kami soal-soal trivia tentang produk-produk IB. Manajer divisi HRD (Human Research Development) meminta kami untuk mengevaluasi sistem SGD (Sharia Group Discussion) dan menantang kami untuk memberikan konsep yang terbaik untuk membangun kegiatan tersebut. SGD sendiri merupakan acara halaqah yang dibimbing oleh AcSESor berpengalaman untuk mengenal konsep ekonomi islam secara menyeluruh dan mengkaji masalah-masalah baru di masyarakat.

Malamnya kami membakar jagung bersama-sama. Lalu gantian akhwat yang membakar sosis bersama-sama.

Keesokan harinya kami sholat subuh bersama-sama. Kemudian dilanjut dengan outbond seharian. Setelah itu, AcSESor alumni, mas Bayu, mas Irfan dan mbak Ayu menceritakan suka dukanya selama menjadi pengurus. Cerita perjuangan Mas Bayu pergi ke Jakarta untuk mengundang Ust. Yusuf Mansyur dalam acara “Gebyar Satu Dekade AcSES” menggambarkan totalitas AcSESor. Himbauan-himbuan dari mas Irfan untuk menjaga nuansa kekeluargaan AcSES memberikan kami semangat untuk memaknai waktu-waktu berharga ini. Nuansa sendu mulai datang, ketika mbak Ayu selama berada dalam organisasi mewarnai jalan-jalan kenangan beliau sebelum bekerja di OJK.

Kemudian dia akhir acara ditunjukan kepada kami struktur kepanitiaan event AcSES Kerja Nyata yang direalisasikan dengan kampanye nasional FoSSEI Jatim. Lalu penghargaan-penghargaan semacam tim terbaik, peseerta terbaik difloorkan setelah kami mengemasi barang-barang kami.

Setelah acara tersebut kami pulang. Perjalanan yang kami tempuh sekitar 5 jam. Karena menunggu kereta api dan kereta api tersebut sempat berhenti beberapa jam di jalan.

Sabtu, 12 September 2015

Mengapa Seorang Muslim harus berilmu?


Adanya ilmu tidak bisa lepas dari adanya kehidupan, demikian pula bagi seorang muslim adanya ilmu sangatlah penting. Kewajiban seorangmuslim dalam menuntut ilmu juga disebutkan dalam ayat-ayat Al-Qur’an, misalnya dalam surat al-Baqarah : 26 yang isi kandungannya adalah bagaimana seharusnya seorang muslim dapat mengambil pelajaran dari setiap ciptaan Allah.

Ada banyak sekali alasan mengapa seorang muslim dituntut untuk menjadi pribadi muslim yang cerdas berilmu. Dalam surat Muhammad : 19, Allah berfirman, “Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu.” Dari ayat tersebut dijelaskan bahwa untuk beramal kita harus berilmu terlebih dahulu yaitu pada urutan kata ketahuilah dan barulah memohon ampunan. Muadz bin Jabal berkata, “Ilmu adalah pemimpin amal dan amalan itu berada di belakang setelah adanya ilmu.” Apabila kita beramal tanpa adanya ilmu yang menyertai amalan kita tersebut maka kita telah melakukan perbuatan yang sia-sia karena kita tidak tahu bagaimana caranya agar amalan tersebut dapat diterima Allah SWT.

Ilmu adalah syarat benarnya sebuah perkataan maupun perbuatan. Tanpa adanya ilmu maka perkataan ataupun perbuatan yang kita lakukan tidak akan ada artinya, bahkan bisa jadi kita tidak dipercaya oleh orang lain. Dengan adanya ilmu kita juga dapat meluruskan niat perbuatan kita, karena dengan ilmu kita bisa membedakan antara yang baik dan buruk.

Ilmu bisa diibaratkan sebagai cahaya dan petunjuk bagi seorang muslim. Telah banyak orang yang menjadi mualaf setelah mereka melakukan berbagai penelitian dan menemukan berbagai kebenaran-kebenaran yang ada dalam ajaran Islam. Ilmulah yang membuat seseorang mengetahui banyak hal dari ciptaan Allah. Bahkan dengan ilmulah satu-persatu ayat-ayat dalam al-Qur’an dapat dibuktikan kebenarannya bahwa al-Qur’an adalah benar-benar dari Allah dan bukan buatan Nabi Muhammad. Sebagai contoh yaitu dengan ditemukannya sungai air tawar di bawah laut di perairan Meksiko, hal ini telah disebutkan dalam al-Qur’an bahwa antara keduanya terdapat hijab (pembatas).

Keharusan menuntut ilmu bagi seorang muslim saat ini semakin nyata didasari dengan adanya fakta bahwa ilmu pengetahuan dari dunia Islam telah diboyong oleh dunia barat sedangkan Negara-negara barat mencegah terjadinya perkembangan ilmu pengetahuan di Negara Islam yaitu dengan menyodori umat Islam dengan berbagai persoalan agar umat Islam sibuk sendiri dan saling bertikai antar sesama muslim. Dalam hal ini peran ilmu adalah membuat seorang muslim sulit dipengaruhi dengan hal-hal negatif. Dengan lahirnya generasi muslim yang cerdas berilmu, maka diharapkan dapat membawa Islam seperti pada masa kejayaannya dahulu.

Ilmu memberikan keutamaan-keutamaan bagi orang yang mempunyainya. Dalam hadits disebutkan bahwa para malaikat meletakkan sayap-sayap mereka pada orang-orang yang menuntut ilmu karena Allah, hal ini menunjukkan bahwa malaikat ridho dan senang terhadap orang yang menuntut ilmu. Dalam ayat yang lain Allah berfirman dalam surat al-Mujadillah : 11, “Wahai orang-orang beriman! Apabila dikatakan kepadamu:“Berilah kelapangan di dalam majlis-majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Keutamaan lain dari ilmu yang kita miliki ialah dapat menjaga kita dari hal-hal negatif. Dengan mempelajari ilmu pengetahuan, kita dapat melakukan perubahan ke arah kemajuan umat Islam.
Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikuti bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagai mereka selain Dia. “ [TQS. Ar-Ra’du : 11]

Tugas Essay SMART 2
by Siti Nur Rodiyah
Manajemen FEB UNAIR 2010

staff Divisi Business AcSES

Cendekia Pemenang Kehidupan


“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Diantara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang yang fasik.” (TQS. Ali Imran : 110)
Begitu tinggi pujian Allah bagi umat muslim. Tidak hanya pada ayat ini, banyak ayat lain yang juga menunjukkan bahwa Allah memberikan predikat tertinggi bagi umat Islam. Kaum Muslimin dijadikan sebagai Khalifah Allah di muka bumi untuk menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar serta untuk menjaga bumi ini. Agar umat muslim bisa menjalankan tugasnya, Allah juga telah memberikan bekal berupa aturan-aturan yang menuntun kita dalam menjalani kehidupan ini.

Menjadi cendekia sejati
Islam sebagai agama yang sempurna, tidak hanya berkutat seputar masalah hubungan manusia dengan Rabb-nya seperti sholat, zakat, puasa, haji, dan bersuci; ataupun hubungan manusia dengan dirinya sendiri semisal akhlak; namun juga mengatur hubungan manusia dengan manusia yang lain seperti aturan pergaulan, bermasyarakat, jual beli atau ekonomi, pendidikan, bahkan bernegara dan berpolitik. Dan semua hal ini, saling terkait membentuk satu kesatuan sebagai sebuah sistem kehidupan yang paripurna.
 “Maka demi Rabb-mu, mereka itu (pada hakikatnya) tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim (pemutus) atas segala permasalahan yang timbul diantara mereka, kemudian tidak ada rasa keberatan di hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima (pasrah) dengan sepenuhnya.” (TQS. An-Nisa’ : 65)
 “Sesungguhnya orang-orang yang ingkar kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud membeda-bedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan, ‘Kami beriman kepada sebagian dan kami mengingkari sebagian yang lain.’ serta bermaksud mengambil jalan tengah (iman atau kafir). Merekalah orang-orang kafir yang sebenarnya. Dan Kami sediakan untuk orang-orang kafir itu azab yang menghinakan. Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan tidak membeda-bedakan di antara mereka (para Rasul), kelak Allah akan memberikan pahala kepada mereka. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (TQS. An-Nisa’ : 150-152)
 “Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin, dan wanita yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu keputusan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia telah tersesat, dengan kesesatan yang nyata.” (TQS Al-Ahzab : 36)
Karena itu, sejatinya memperjuangkan Ekonomi Islam, Politik Islam, ataukah Pendidikan Islam, adalah perjuangan untuk menerapkan Islam secara keseluruhan tanpa mengabaikan satu pun aspek darinya.

Perjuangan untuk Ekonomi Islam
Pembahasan tentang perjuangan untuk Islam saya kutip dari pidato dari Syaikh Abu Khalil Ibrahim Utsman, Juru Bicara Hizbut Tahrir, pada Konferensi Ekonomi Internasional di Khartoum, Sudan 7 Muharram 1430:
 Implementasi sistem ekonomi Islam dalam negara Khilafah tidak tergantung pada “suasana hati” atau kecenderungan penguasa, akan tetapi yang menentukan adalah implementasi sistem yang diamanahkan Allah SWT. atas dasar takwa, serta keadilan hukum-hukum yang berlaku didalamnya.
Bukankah sudah tiba saatnya bagi manusia untuk berdiri, berjuang, dan melaksanakan amanah yang diberikan Allah SWT untuk mewujudkan kehidupan yang aman dan sejahtera, serta bebas dari krisis?
Dapat dikatakan bahwa sistem ini adalah sistem yang adil, fair, dan aman. Akan tetapi, sistem ini masih tersembunyi dibalik lembaran-lembaran buku, sedangkan mendirikan Negara Khilafah adalah sebuah tugas raksasa, atau paling tidak tugas yang sangat sulit. Lalu, mengapa kita harus mempersulit diri untuk memetik buah yang masih menggantung di cabang pohon yang sangat tinggi, dan menanggung risiko yang tidak ringan? Mengapa kita tidak cukup menunggu buah yang jatuh, memungutnya, membersihkannya dari tanah dan dari kotoran yang melekat, menutup mata jika masih ada kotoran yang tersisa, baru kemudian kita dapat memakannya? Bukankah yang demikian itu sama saja?”
Mengenai pandangan bahwa mengimplenentasikan sistem ekonomi Islam dalam Negara Khilafah adalah sebuah usaha yang sulit, bahkan mustahil, maka dapat dikatakan, bahwa kenyataannya bukanlah demikian. Tegaknya sistem ekonomi Islam dalam Negara Khilafah bukanlah suatu hal yang mustahil. Sebaliknya, Khilafah insya Allah akan segera berdiri.
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal salih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi ini, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa. Dan sungguh Dia akan meneguhkan agama yang telah diridlai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar keadaan mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka akan tetap menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Ku. Dan barang siapa yang tetap kafir sesudah janji itu, maka mereka termasuk orang-orang yang fasik” (TQS.an-Nur : 55)
 Adapun pilihan mencukupkan diri dengan memungut buah yang jatuh, membersihkannya, dan memakannya, maka sesungguhnya sikap ini tidak berbeda dengan sikap kaum kapitalis, yang membiarkan Kapitalisme terus diimplementasikan, dan mencukupkan diri dengan membersihkan kotoran-kotoran yang menyelimutinya, menutup mata dengan kotoran yang tersisa, kemudian memakannya. Yang demikian ini bukanlah sikap seorang Muslim yang menginginkan kebaikan di dunia dan di akhirat. Demikian juga, sikap semacam itu bukanlah sikap orang-orang yang berfikir dan berjuang untuk mewujudkan keadaan yang lebih baik.
Telah jelas keagungan sistem ekonomi Islam, yang menjamin kehidupan ekonomi seluruh rakyatnya di bawah naungan Negara Khilafah. Siapa saja yang mengikuti jalan yang lurus, dan terus berjuang untuk menegakkan kebenaran, maka mereka akan mendapatkan rahmat-Nya. Dan siapa saja yang memilih sistem lain selain sistem Islam, maka Anda akan melihat mereka mendapatkan kesulitan dan penderitaan di dunia, serta siksa di akhirat kelak. Allah Swt berfirman:
“Maka datang kepadamu petunjuk dari-Ku, lalu barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan celaka. Dan barang siapa yang berpaling dari peringatan-peringatan-Ku maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit, dan pada Hari Khiamat akan dikembalikan dala keadaan buta.” (TQS. Thaha : 123-124)

Untuk AcSES dan FoSSEI
AcSES dan FoSSEI merupakan sebuah contoh perkumpulan para cendekia yang berjuang untuk membumikan Ekonomi Islam. Namun baik AcSES maupun FoSSEI tidak ada artinya tanpa adanya kontribusi dari para cendekia yang unggul, yang dengan sepenuh hati memahami dan memperjuangkan agamanya.
Dengan mempelajari Islam secara menyeluruh, keyakinan bahwa agama yang kita perjuangkan adalah agama yang benar, tidak ada keraguan lagi didalamnya, akan tumbuh; serta kita akan terhindar dari pemikiran-pemikiran yang mencoba menyesatkan kaum muslimin dari jalan Rabb-nya.
Perjuangan selanjutnya adalah mengajak umat Islam agar kembali memegang teguh agamanya. Kemenangan umat muslim sama artinya dengan kesejahteraan umat manusia baik bagi umat Islam maupun Non Islam, karena Islam adalah rahmat bagi seluruh alam.
Jadi, masihkah kita ragu akan kemenangan Islam ini? Bagaimana dengan Anda? Siapkah Anda menjadi penjaga Islam yang setia? Siapkah Anda optimal dan Ikhlas dalam setiap aktivitas dakwah Anda? Siapkah Anda mengesampingkan kepentingan individu Anda demi dakwah Islam ini? Jika jawaban Anda “SIAP” dengan mantap maka nantikanlah ….bahwa SURGA telah nampak jelas di depan Anda dengan sambutan para malaikat penjaganya. Tetapi jika Anda menjawabnya dengan ragu-ragu atau bahkan jawaban Anda “TIDAK SIAP”, maka sungguh kemenangan Islam akan tetap terwujud dengan izin Allah dan Anda hanya menjadi PENONTONNYA.

…………………………………………………………….

“ Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati ini telah berkumpul untuk mencurahkan mahabbah hanya kepada-Mu, bertemu dalam rangka menyeru (dakwah di jalan)-Mu, dan berjanji setia untuk membela syariat-Mu maka kuatkanlah ikatan pertaliannya, ya Allah, abadikanlah kasih sayangnya, tunjukkanlah jalannya, dan penuhilah dengan cahaya-Mu yang tidak akan pernah redup, lapangkanlah dadanya denga limpahan iman dan keindahan tawakal kepada-Mu, hidupkanlah dengan Ma’rifah-Mu, dan matikanlah dalam keadaan syahid di jalan-Mu. Sesungguhnya Engkau sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong. Amin. Dan semoga shalawat serta salam selalu tercurahkan kepada Muhammad, kepada keluarganya, dan kepada semua shahabatnya.”

……………………………………………………………................

Tugas SMART 2
by Desi Purnamasari N
Ekonomi Pembangunan FEB UNAIR 2010

Sekretaris I AcSES

Kamis, 27 Agustus 2015

Melihat Lebih Dalam Krisis Ekonomi Indonesia 2015





Nilai mata uang rupiah (IDR) terhadap dollar Amerika Serikat (USD), tanggal 16 Juli 2015 hingga 17 Agustus 2015. (Google Finance)
Nilai mata uang rupiah (IDR) terhadap dollar Amerika Serikat (USD), tanggal 16 Juli 2015 hingga 17 Agustus 2015. (Google Finance)
dakwatuna.com – Pelemahan kurs rupiah yang mendekati angka 14.000 menjadi sebuah ancaman yang mengerikan bagi Indonesia. Angka itu secara ekonomi mencerminkan bahwa banyak investor yang berpindah dari Indonesia ke negara lain. Konsekuensinya adalah pembangunan-pembangunan nasional yang melibatkan investasi asing dapat terganggu.

Kondisi ini diperparah dengan Yuan yang melakukan penurunan kurs secara sengaja. Indonesia yang telah terbanjiri oleh produk China seakan tidak berdaya untuk bangkit. Hal ini karena produk China lebih murah secara internasional dibandingkan produk lain. Saat China mengumumkan untuk menurunkan kurs Yuan, rupiah jatuh 218 poin dari selasa hingga Rabu kemarin. Anjloknya kurs rupiah tersebut membuat produk Indonesia kurang kompetitif di pasar internasional. Besarnya porsi impor sebagai faktor produksi suatu barang menjadi hambatan sendiri bagi Indonesia untuk melakukan ekspor.
Tekanan ekonomi luar negeri tersebut ternyata masih ditambah dengan krisis pangan dan kartel daging. Teriknya El nino mengakibatkan sejumlah petani harus gulung tikar akibat kurangnya sumber air. Fasilitas pemerintah untuk menopang sektor pertanian sepertinya belum mampu mengatasi krisis ini.
Pada dasarnya pelemahan nilai kurs dapat diatasi melalui cadangan devisa melalui intervensi pemerintah. Akan tetapi hal ini tidak cocok dilakukan pada saat ini karena penurunan kurs rupiah yang terus menerus bila ditahan melalui cadangan devisa akan memperburuk kondisi ekonomi. Demikian dengan kebijakan pemerintah, saat itu Menko ekonomi, Sofyan Djalil tidak menjadikan cadangan devisa untuk menahan rupiah.

Bagi negara yang memiliki produk yang menarik, efisien, dan mandiri maka akan menjadi peluang besar untuk melakukan ekspor. Hal inilah yang melatarbelakangi China untuk menurunkan kurs Yuan.
Ketidakberdayaan Indonesia untuk bangkit ini semakin mustahil rasanya. Bagi seorang muslim tidak boleh memandang masalah ini dari segi materialistis atau fundamental saja, tetapi lebih dari itu. Sisi-sisi non fundamental menjadi fokus dari kebijakan ekonomi para Khulafaur Rasyidin. Seorang muslim harus percaya bahwa perbuatan maksiat akan mendatangkan bencana sebagaimana sabda Rasulullah yang dibaca oleh Umar Radhiyallahu Anhu pada saat pemerintahannya, “Sesungguhnya musibah disebabkan banyaknya perzinaan, dan sesungguhnya tertahannya hujan disebabkan para hakim yang jahat dan para pemimpin yang zhalim.”

Robert Joseph Barro dan Rachel McCleary, guru besar Universitas Harvard menemukan adanya hubungan positif antara pertumbuhan ekonomi dengan keyakinan agama seseorang, misalnya keyakinan akan surga-neraka. Dalam kajian lain kedua ahli ekonomi tersebut berjudul “Religion and Economy” menemukan adanya hubungan yang negatif antara tingkat keberagamaan dengan pendapatan individu. Semakin aktif dalam kegiatan agama semakin rendah pendapatan seseorang. Hal ini membuktikan bahwa keyakinan dan iman tidak selalu sejalan dengan praktik keagamaan.

Terbuktilah sabda Rasulullah bahwa seseorang yang melakukan ibadah puasa tidak disertai dengan perbuatan baik maka seseorang itu hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja. Begitupun dengan ibadah-ibadah yang lain. Rasulullah selalu menekankan bahwa jangan menjadikan ibadah sebagai penggugur kewajiban saja. Terkadang kita sebagai umat Islam lupa bahwa ibadah bukan alasan sebagai melemahnya produktivitas kebaikan kita.

Oleh karena itu, sangat relevan beberapa bait doa yang disampaikan K.H. Khoirul Muna saat penutupan sidang nota keuangan dan RAPBN 2016 dengan kondisi saat ini. Seorang pemimpin haruslah adil dalam menunaikan kewajiban rakyatnya. Begitupun sabda Rasulullah bahwa penerapan keadilan di muka bumi akan membuka tiga pintu rezeki, yaitu dari langit berupa keramahan iklim dan cuaca, dari bawah bumi berupa kesuburan tanah dan lancarnya pertanian dan pelayaran, serta di antara keduanya dengan keberkahan perniagaan yang dilakukan oleh manusia. Tidak perlu menunggu para pemimpin untuk berlaku adil, paling tidak dilakukan mulai dari diri kita dan keluarga kita, Insya Allah kehidupan kita berkah.

Senin, 10 Agustus 2015

Sharia Fair, Sarana Pengenalan Ekonomi Islam untuk Segala Usia



A.    Latar Belakang
Dewasa ini kehidupan ekonomi telah menjadi standar kehidupan individu dan kolektif suatu negara-bangsa. Keunggulan suatu negara diukur berdasarkan tingkat kemajuan ekonominya. Ukuran derajat keberhasilan menjadi sangat materialistik. Oleh karena itu, ilmu ekonomi menjadi amat penting bagi kehidupan suatu bangsa. Namun demikian, pakar ilmu ekonomi sekaliber Marshal menyatakan bahwa kehidupan dunia ini dikendalikan oleh dua kekuatan besar; ekonomi dan keimanan (agama), hanya saja kekuatan ekonomi lebih kuat pengaruhnya daripada agama.

            Sementara itu perkembangan ekonomi Islam akhir-akhir ini begitu pesat, baik sebagai ilmu pengetahuan maupun sebagai sebuah sistem ekonomi telah mendapat banyak sambutan positif di tingkat global. Sehingga  dalam tiga dasawarsa ini mengalami kemajuan, baik dalam bentuk kajian akademis di Perguruan Tinggi Negeri maupun swasta, dan  secara praktik operasional.

Perkembangan praktik ekonomi Islam, terutama dalam bidang keuangan dan perbankan, baik di dunia maupun di Indonesia sangat menggembirakan. Di tingkat dunia, sudah banyak negara yang memiliki industri keuangan dan perbankan Syariah. Saat ini tidak kurang dari 75 negara di dunia telah mempraktekkan sistem ekonomi dan keuangan Islam, baik di Asia, Eropa, Amerika maupun Australia.

Demikian pula dalam bidang akademis, beberapa universitas terkemuka di dunia sedang giat mengembangkan kajian akademis tentang ekonomi syariah. Harvard University merupakan universitas yang aktif mengembangkan forum dan kajian-kajian ekonomi syariah tersebut.Di Inggris setidaknya enam universitas mengembangkan kajian-kajian ekonomi syari’ah. Demikian pula di Australia oleh Metwally dan beberapa negara Eropa seperti yang dilakukan Volker Nienhaus. Para ilmuwan ekonomi Islam, bukan  saja kalangan muslim, tetapi juga non muslim.

Ilmu ekonomi Islam merupakan ilmu pengetahuan sosial yang mempelajari masalah ekonomi rakyat yang dilhami oleh nilai-nilai Islam. Sejauh mengenai masalah pokok, hampir tidak terdapat perbedaan apapun antara ilmu ekonomi Islam dan ilmu ekonomi modern. Andaipun ada perbedaan, itu terletak pada sifat dan volumenya (M. Abdul Mannan; 1993).

Meski ekonomi Islam menarik perhatian yang besar dari masyarakat dunia, bukan berarti ekonomi Islam itu sendiri tidak menghadapi berbagai macam tantangan dan problematika. Di Indonesia sendiri, meskipun ekonomi Islam mulai digalakkan besar-besaran  baik oleh pihak pemerintah maupun pihak swasta, namun tetap saja ekonomi Islam belumlah mampu diterapkan secara baik, benar dan secara keseluruhan di kepulauan nusantara ini.

Contohnya saja dalam industri keuangan syariah sebagai salah satu wujud praktik ekonomi islam di dunia, termasuk Indonesia yang menghadapi persoalan ketersedian SDM berkualitas. Terus berkembangnya industri keuangan dan perbankan syariah mendorong meningkatnya kebutuhan SDM berkualitas. Bank Indonesia pernah menyatakan untuk mengejar pangsa pasar perbankan syariah menjadi lima persen, Indonesia kekurangan tenaga kerja sekitar 40 ribu.

Persoalan kedua adalah kurangnya pemahaman masyarakat terhadap sistem keuangan dan perbankan syariah. Hal tersebut terlihat dari belum banyaknya masyarakat yang mengakses layanan perbankan syariah dibandingkan layanan perbankan konvensional.

Salah satu perusahaan konsultan manajemen terbesar dunia, AT Kearney melaporkan terbatasnya SDM berkualitas di sektor perbankan syariah akan menjadi kendala terbesar dalam mengembangkan industri tersebut. Terlebih, dengan terus berkembangnya industri perbankan syariah, maka tuntutan akan SDM baru berkualitas akan semakin besar. AT Kearney memprediksi industri perbankan syariah Timur Tengah dalam satu dekade mendatang membutuhkan sedikitnya sekitar 30 ribu SDM baru berkualitas.

Menurut Direktur Dow Jones Islamic Market Index (DJIM), Rushi Siddiqui, terbatasnya sumber daya juga terjadi di sisi SDM pengawas syariah. Terlebih, kebutuhan akan SDM tersebut diprediksi akan terus meningkat sejalan dengan semakin banyaknya lembaga keuangan konvensional Barat yang mulai memasuki bisnis syariah.

Siddiqui menyebutkan, data terbaru Islamic Finance Information Service (IFIS) di London menunjukkan jumlah pakar syariah internasional saat ini sangat terbatas. Pada tahun 2006, hanya terdapat 187 pakar syariah internasional yang melakukan supervisi kesesuaian syariah bagi total 200 lembaga keuangan syariah di dunia. Sheikh Nizam Yaquby asal Bahrain misalnya mensupervisi hampir 40 lembaga keuangan syariah. Siddiqui menyebutkan, berdasarkan data tersebut, lembaga keuangan syariah dunia terbukti masih membutuhkan penambahan jumlah pakar syariah lebih banyak.

Saat ini, terdapat sekitar 300 lembaga keuangan syariah di dunia. Mereka tersebar di lebih di 75 negara. Pada awal tahun lalu, nilai aset mereka diestimasi mencapai sekitar 300 miliar dolar AS. Nilai aset itu diproyeksi akan tumbuh cukup signifikan dalam beberapa tahun mendatang dipicu tingginya permintaan pasar atas produk keuangan syariah. Situs www.researchandmarkets.com, melansir hasil penelitian mengenai perkembangan keuangan syariah global. Berdasarkan penelitian itu, perbankan syariah merupakan industri keuangan di dunia dengan tingkat pertumbuhan paling cepat. Walaupun demikian, jika dibanding dengan lembaga keuangan konvensional masih sangat jauh market sharenya. Misalnya, di Indonesia market share perbankan syariah masih di bawah 3 % dari perbankan nasional.

Padahal, kebutuhan SDM ekonomi Islam yang benar-benar berkualitas merupakan kebutuhan pokok dan mendesak untuk mendorong pengembangan ekonomi Islam lebih kencang lagi. Untuk itu, eksistensi institusi pendidikan ekonomi Islam merupakan keniscayaan.

 Mencermati permasalahan tersebut, strategi pengembangan ekonomi islam tidak cukup dilakukan melalui pendidikan ekonomi islam di perguruan tinggi atau kajian-kajian ilmiah semata yang hanya melibatkan segelintir kalangan masyarakat. Padahal untuk menuju ke sebuah sistem, maka setiap elemen pembangun sistem itu harus turut serta di dalamnya dan target utama pengembangan ekonomi islam ini sendiri adalah pemberdayaan sumber daya manusia yang berkualitas dari seluruh lapisan elemen masyarakat.

B.    Edukasi Ekonomi Islam Melalui Sharia Fair

Demi mewujudkan pengembangan sumber daya manusia di setiap elemen masyarakat, diharapkan pihak pemerintah dan pihak swasta saling bekerja sama dalam membangun keilmuan tentang ekonomi Islam agar hadir ditengah-tengah masyarakat. Dan membekali masyarakat tentang ekonomi Islam sehingga kedepannya akan dapat bersinergi bersama-sama membangun sistem perekonomian yang berlandaskan nilai-nilai islami.

Sejalan dengan hal itu, elemen-elemen pendukung seperti akademisi, praktisi maupun masyarakat pada umumnya harus dipahamkan terlebih dahulu tentang pentingnya ekonomi islam sehingga semua akan berjalan harmonis dan saling mendukung satu sama lain agar ekonomi islam tidak hanya menjadi sebuah wacana dan keinginan semata namun juga dapat melembaga dan menjadi sebuah sistem terpadu yang diterapkan di sebuah negara.
         
      Salah satunya adalah mendidik elemen-elemen pendukung tersebut secara keseluruhan dan kontinyu yang difasilitasi baik oleh pihak swasta maupun pemerintah. Misalnya dengan mengadakan sharia fair atau sharia education fair, yang di dalamnya tidak hanya diperkenalkan tentang kelembagaan ekonomi Islam dibidang keuangan, tapi juga edukasi yang mengatur tentang bagaimana sebuah perekonomian yang lebih bersifat ekonomi individu yang biasa diterapkan sehari-hari sehingga sejalan dengan nilai-nilai keislaman.

Kegiatan sharia fair yang tujuannya adalah mengenalkan ekonomi islam itu sendiri, tidak hanya dengan menampilkan produk-produk keuangan sharia tetapi disana masyarakat dapat memperoleh pendidikan secara langsung ekonomi islam tidak hanya secara global atau perusahaan tetapi juga ekonomi islam dalam rumah tangga atau individu.

Di dalam sharia fair tersebut juga diperkenalkan bagaimana menanamkan ekonomi islam kepada anak sejak usia dini. Mengingat penduduk Indonesia mayoritas beragama islam apabila tidak diperkenalkan ekonomi islam sejak dini maka akibatnya adalah mereka tidak mengerti ekonomi seperti apa yang harus dilakukan, maka tidak heran di negara yang mayoritas penduduknya muslim tetapi dalam perilaku ekonomi keseharianya adalah keluar dari agama yang mereka anut. Tujuan dari pendidikan ekonomi islam sejak diniadalah menanamkan pola pikir dan perilaku anak sejak dini agar sesuai dengan tuntunan dan nilai-nilai islam. Karena tidak menuntut kemungkinan meski mereka usianya masih dini, tapi mereka sudah diizinkan untuk bertransaksi jual beli dalam keseharian meski nominalnya masih terbilang kecil.

Mengenalkan ekonomi Islam sejak dini kepada anak-anak belumlah bisa jika dilakukan dengan memberi mereka materi-materi yang bahasanya rumit untuk dimengerti oleh anak seusia mereka. Maka pihak sharia fair ini dapat membuat simulasi yang dipadukan dengan permainan atau edu-game. Misalnya dengan memodifikasi permainan ular tangga yang tidak asing bagi mereka, dimana untuk menjadi pemenang, mereka harus melemparkan dadu dan disetiap kotak yang dituju mereka akan mendapatkan perintah atau informasi tentang ekonomi islam itu sendiri. Atau permainan lainnya yang dapat menyampaikan ekonomi islam melalui permainan yang menyenangkan sehingga mudah ditangkap oleh anak-anak pada usia dini tersebut.

Tak hanya wahana edu-games sebagai sarana pembelajaran ekonomi islam bagi anak, atau seminar bagi masyarakat umum, ekonomi islam juga mulai dikenalkan pada remaja maupun mahasiswa. Display bisnis yang berbasis syariah, meliputi perusahaan besar baik sektor riil maupun keuangan syariah bisa dijadikan daya tarik bagi remaja untuk mengenal lebih dekat apa itu ekonomi islam dan bagaimana aplikasi dalam dunia nyatanya.

Dengan adanya bank syariah misalnya, remaja dengan karakteristiknya yang selalu ingin tahu mulai bertanya-tanya, mereka ingin mengetahui apa beda bank konvensional dan bank syariah, mengapa riba diharamkan, mengapa bank syariah menggunakan sistem bagi hasil, dan pertanyaan-pertanyaan lain yang dapat membawa remaja tersebut untuk mengetahui lebih dalam lagi mengenai ekonomi islam. Sehingga disini, dasar-dasar dalam aplikasi ekonomi syariah yakni pelarangan riba bisa kita tanamkan pada kalangan remaja.

Selain pengenalan ekonomi Islam kepada anak usia dini dan remaja, para orang tua dan masyarakat pada umumnya juga harus mendapat pendidikan tentang ekonomi islam yang dapat diterapkan sehari-hari melalui seminar atau pengkajian yang narasumbernya langsung dengan pakar atau ahli ekonomi Islam. Sehingga mereka bebas bertanya dan paham tentang ekonomi Islam yang nantinya akan turut bersama-sama pemerintah dan pihak swasta yang berkepentingan menjadi elemen yang membangun sebuah sistem ekonomi Islam yang tujuannya adalah menciptakan kesejahteraan.
           
C.    Pihak-Pihak Terkait dalam Penyelenggaraan Sharia Fair

Gagasan di atas dapat terwujud bukanlah dengan kinerja dari satu pihak semata melainkan membutuhkan kerjasama dari beberapa pihak, yaitu:
a.      Pemerintah, dalam hal ini pemerintah dapat menjadi inisiator utama dalam penyelenggaraan sharia fairini dengan mengundang pihak-pihak terkait lainnya. Selain itu, pemerintah dapat pula mendirikan stan untuk mengedukasi masyarakat mengenai informasi tata kelola dan regulasi ekonomi Islam yang berlaku di Indonesia. Fungsi ini dapat dijalankan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia (BI) dan Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) karena tiga lembaga inilah yang menjalankan fungsi regulasi dan pengawasan terkait praktik ekonomi Islam di Indonesia. Tidak hanya itu, tetapi juga pemerintah dapat menyelenggarakan edu-games untuk mengedukasi anak-anak usia dini mengenai praktik ekonomi Islam dalam kehidupan sehari-hari.
b.     Pelaku usaha keuangan syariah, seperti perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang perbankan syariah, asuransi syariah, pegadaian syariah dan sebagainya. Kehadiran mereka di sharia fair dapat menjadi sarana untuk mendekatkan masyarakat dengan produk yang mereka tawarkan sehingga di satu sisi masyarakat semakin teredukasi dan di sisi lain hal ini dapat menjadi ajang promosi bagi industri keuangan syariah.
c.      Pengusaha syariah, seperti pengusaha di bidang industri halal, pengusaha supermarket syariah dan sebagainya. Sebagaimana diketahui bahwa cakupan ekonomi Islam tidak hanya pada ranah keuangan tetapi juga di sektor riil sehingga penting untuk menghadirkan para pengusaha yang komitmen pada nilai-nilai syariah agar masyarakat tidak hanya memahami ekonomi Islam di bidang keuangan saja tetapi bisa lebih dekat dengan para pelaku usaha yang teguh pada nilai-nilai syariah. Kehadiran para pengusaha dapat berupa pendirian stan usaha mereka atau dihadirkan sebagai narasumber pada sesi talkshow yang umumnya dilaksanakan pada sebuah fair.
d.     Perguruan tinggi, khususnya perguruan tinggi baik negeri maupun swasta yang menyelenggarakan program studi terkait ekonomi Islam dapat dihadirkan untuk membuka stan di sharia fair sehingga masyarakat khususnya para pelajar dan orang tua memiliki informasi yang memadai jika ingin melanjutkan studi di bidang ekonomi Islam.

D.    Penutup

Kebutuhan akan SDM yang mumpuni di bidang ekonomi Islam saat ini telah menjadi kebutuhan mendesak bagi berbagai industri yang berkecimpung di dalamnya. Karena itu, pengenalan ekonomi Islam kepada masyarakat secara massif bahkan sejak usia dini menjadi sangat mendesak pula. Maka, gagasan mengenai penyelenggaraan sharia fair sebagai sarana edukasi masyarakat tentang ekonomi Islam menjadi sangat relevan agar dapat memberi masyarakat pemahaman yang serta motivasi untuk turut serta dalam mengembangkan ekonomi Islam dalam kehidupan berekonomi sehari-hari




Daftar Pustaka
Ahmad, Khursid. 2001. ”Kata Pengantar” dalam Umer Chapra (2001),Masa Depan Ilmu Ekonomi: Sebuah Tinjauan Islam/The Future of Economics: An Islamic Perspective. Ikhwan Abidin Basri (terj.) Jakarta: Gema Insani Press

Ali, Mohammad Daud. 1988. Sistem Ekonomi Islam, Zakat dan Wakaf,Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia

Anto, M.B. Hendrie. 2003. Pengantar Ekonomika Mikro Islami.Yogyakarta: EKONISIA

Baldwin, R.W. 1966. Social Justice. London: Pergamon Press Joseph G. Eisenhauer, “Economic Models of Sin and Remorse: Some Simple Analytics”, Review of Sosial Economy, Vol. LXII, No. 2, June 2004

Boulakia, David Jean C. 1971. “Ibn Khaldun: A Fourteenth Century Economist”, Journal of Political Economy, Vol. 79, No. 5 (September/October), The University of Chicago.

Buarque, Christofam. 1993. The End of Economics: Ethics and Disorder of Progress. London, Zed Books

Chapra, M. Umar. 2001. What is Islamic Economics, Jeddah: IRTI – IDB.

Choudoury, Masudul Alam. 1989. The Paradigm of Humanomics. Bangi: UKM

Effendi, Rustam. 2003. Produksi dalam Islam. Yogyakarta: Magistra Insania Press.

Etzioni, Amitay. 1988. The Moral Dimensioan: Towards a New Economics (New York: McMillan

Gorringe, Timothy. 1999. Fair Shares: Ethics and The Global Economy.Slovenia: Thames & Hudson

Gregory, Paul R dan Robert C Stuart. 1981. Comparative Economic System, Boston: Houghton Miffin Company


[Dokumen AcSES 2014]



Kelompok SGD Acsesor

 
Powered By Blogger

Kontributor

a

a