Oleh Hidayatullah Muttaqin SE, MSi
A. Kutukan globalisasi
Mengapa wilayah Indonesia yang kaya SDA justru mengalami
perburukan kinerja dari sisi kesejahteraan masyarakat? Joseph Stiglitz
menjelaskan dalam bukunya “Making Globalization Work” bahwa buruknya pekerja
disebabkan banyaknya Negara berkembang yang perekonomiannya sangat bergantung
pada SDA dan paradoks Negara kaya SDA cenderung menjadi kaya dengan penduduk
yang miskin.
Begitu juga dengan Kalimantan Timur. Daerah yang memiliki
potensi pertambangan lebih tinggi dibanding dengan daerah lain seharusnya dapat
meningkatkan taraf kesejahteraan rakyatnya. Namun yang terlihat justru
sebaliknya. Dengan PDRB Rp 281,4 trilyun, maka PDRB per kapita Kaltim tahun
2009 mencapai Rp 88,90 juta, sehingga menempatkan pendapatan perkapita provinsi
ini tertinggi di Indonesia. Anehnya dengan pendapatan rata-rata di atas kertas
Rp 7,41 juta per bulan, tingkat pengeluaran per kapita penduduk Kaltim hanya Rp
622.754 saja dimana 45,45% di antaranya digunakan untuk pemenuhan kebutuhan
pangan.
Data tersebut menggambarkan adanya penghisapan ekonomi yang
menunjukkan terbuktinya teori Stiglitz. Selain itu data tersebut juga
membuktikkan wilayah yang memiliki kekayaan SDA melimpah akan mengundang
penghisapan ekonomi yang lebih besar dibandingkan wilayah yang kekayaan SDAnya
lebih kecil. Walaupun demikian, factor utama dari penghisapan ekonomi adalah
sistem dan aturan kapitalis dan sekuler yang diterapkan di Negara.
B. Politik ekonomi Islam
Menurut Abdurrahman al-Maliki, Politik Pertumbuhan merupakan
Politik Ekonomi Kapitalis yang menempatkan pertambahan pendapatan nasional
sebagai asas perekonomian. Metode ini memperhatikan bagaimana besaran
pendapatan nasional dapat bertambah yang ditandai dengan meningkatnya angka
PDB. Selain itu, metode ini juga fokus pada faktor-faktor pendorong pertumbuhan
yaitu konsumsi masyarakat, tingkat investasi, belanja Negara yang dibiayai
dengan utang, dan ekspor. Inilah yang menyebabkan penghisapan ekonomi yang
terjadi di daerah Kaltim.
Dengan demikian telah terjadi kekeliruan Politik Pertumbuhan
sebagai asas perekonomian. Sedangkan masalah perekonomian sesungguhnya terletak
pada masalah distribusi kekayaan.
Menurut Taqiyuddin an-Nabhani, Politik Ekonomi Islam
menjadikan distribusi kekayaan sebagai fokus perhatian. Politik Ekonomi Islam
memandang manusia secara individu yang harus dijamin pemenuhan kebutuhan
primernya secara layak dan menyeluruh, serta mendorong untuk memenuhi kebutuhan
sekunder dan tersiernya sesuai kadar kemampuan masing-masing.
C. Rekonstruksi sistem kepemilikan SDA
Rekonstruksi sistem kepemilikan SDA dapat dilakukan dengan
membagi kepemilikan dalam 3 hal yaitu kepemilikan individu, kepemilikan Negara,
dan kepemilikan umum.
Adapun benda-benda yang termasuk kepemilikan umum terbagi
atas 3 macam yaitu :
Fasilitas umum
Barang tambang
yang jumlahnya tak terbatas
SDA yang sifat
pembentukannya menghalangi untuk dimiliki oleh individu (swasta)
Sedangkan fungsi Negara dalam konteks ini hanyalah sebagai
pengelola SDA saja.
Dengan metode ini, sektor swasta tidak dapat menguasai harta
milik umum termasuk harta milik Negara.
Setiap kekayaan yang menjadi bagian dari harta milik umum
dan juga bagian yang menjadi harta milik Negara seluruhnya kembali
pemanfaatannya kepada setiap individu yang menjadi warga Negara dalam bentuk
penyediaan barang publik dan pelayanan umum oleh Negara. Ini adalah wujud dari
politik Negara dalam sistem Islam, yakni politik ri'ayah su'unil ummah
(mengurusi urusan umat).
Sumber : makalah TEMILNAS X FoSSEI
Sumber Gambar: stat.ks.kidsklik.com










0 komentar:
Posting Komentar
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !