slide

ASSALAMUALAIKUM

Wellcome to Our World

Profil AcSES

http://acsesfebunair-ksei.blogspot.co.id/search/label/Profil%20AcSES

---->Klik untuk membuka profil AcSES

Ekonomi Islam

---->Klik untuk berkenalan dengan ekonomi islam

AcSES News

---->Klik untuk membuka Informasi tentang agenda kami

FoSSEI News

---->Klik untuk membuka Informasi tentang agenda Forum Silaturahmi Studi Ekonomi Islam

IE News

---->Klik untuk membuka Informasi terkini tentang perkembangan Indeks Syariah dan Unit Usaha Syariah

Call For Paper

---->Klik untuk mencari tahu tentang lomba paper terbaru

"/>

Shariah Group Discussion

---->Klik untuk berdiskusi bersama masalah ekonomi Islam

Our Idea

---->Klik untuk menemukan gagasan-gagasan terbaik kami

"/>

Download

---->Klik untuk mendownload file-file kami

Sabtu, 25 Juli 2015

1. A Short History ........


Assalamualaikum Acsesor dan pembaca yang terhormat. Ini adalah informasi sejarah AcSES yang telah diambil dari berbagai sumber:



A. Versi blog AcSES Fe Ua (2011)


AcSES

(Association of Sharia Economics Studies)

"Commitment with Sharia"

History...

Association of Sharia Economics Studies (AcSES), merupakan wadah mahasiswa yang mengakaji Ekonomi Islam. AcSES berdiri pada tahun 2000. Pada saat itu sampai dengan Juni 2008, AcSES merupakan divisi semiotonom Sie Kerohanian Islam FE Unair (sekarang namanya MoSAIC). Sekarang, AcSES merupakan salah satu organisasi mahasiswa yang independent di bawah Badan Eksekuitf Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga (BEM-FEUA). AcSES hadir untuk memenuhi kebutuhan akan spesialisasi kajian mengenai Ekonomi Islam bagi mahasiswa yang ingin belajar mengenai Ekonomi Islam.

Dalam perjalanannya, atas izin Allah, hasil kerja keras AcSES membuahkan beberapa hasil. Di lingkup kampus, AcSES telah melaksanakan kegiatan rutin kajian Ekonomi Islam dan penyelenggaraan kuliah Informal Ekonomi Islam. Selain itu pula AcSES juga secara aktif menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan Ekonomi Islam, seperti Pengenalan Ekonomi Islam, Seminar Ekonomi Islam, dan Pelatihan Penulisan Metodologi Ekonomi Islam. Di lingkup nasional AcSES menjadi salah satu anggota Forum Silaturahmi Studi Ekonomi Islam (FoSSEI) yang merupakan persatuan Kelompok Studi Ekonomi Islam seluruh Indonesia. AcSES juga senantiasa mengirimkan delegasi baik musyawarah maupun kompetisi yang diadakan oleh FoSSEI.

Kini sebagai salah satu ujung tombak bagi dakwah Ekonomi Islam di FE UNAIR yang menekankan bahwa Islam adalah The Way of Life, AcSES senantiasa berusaha berinovasi dalam setiap aktivitas baik internal maupun eksternal. Semoga keberadaan AcSES di FE UNAIR mampu mempercepat perkembangan dalam mencetak intelek Ekonomi Islam dan penerapan Ekonomi Islam di FE UNAIR dan Indonesia. Insya Allah.


Visi :

Menjadi pusat pengembangan ekonomi Islam yang unggul, kontributif, professional dan amanah


Misi :

    Mencetak kader penerus dakwah ekonomi Islam
    Menjalin ukhuwah dan persatuan umat
    Mengembangkan kajian ekonomi Islam
    Mengembangkan bisnis berbasis syari'ah
    Menciptakan sistem dan budaya kerja yang professional dan amanah
    Menciptakan suasana yang Islami melalui perbaikan individu



B.  Versi video profil AcSES (2012)

AcSES didirikan pada 20 Maret 2001
Di Aula Fajar Notonegoro, Unair
Dihadiri oleh bapak Syafi’i Antonio dan Bpk Drs, Suherman Rosyidin G.Dip, M.com beserta jajaran dekan FEB Unair. Pada awalnya Acses menjadi Badan Semi Otonom (BSO) dibawah sie kerohanian Islam atau sekarang menjadi MoSAIC
Pada tahun 2006 AcSES kini telah menjadi salah satu organisasi mahasiswa yang independen dibawah BEM FEB UA.
AcSES hadir sebagai satu-satunya UKMF keilmuan yang dalam hal ini fokus terhadap ekonomi islam dan karya tulis ilmiah. Saat ini AcSES menjadi ujung tombak penggerak iklim keilmiahan di fakultas eonomi dan bisnis.



C. Versi blog AcSES Online (2013)

Profil AcSES FEB UA
Written By AcSES on Senin, 23 September 2013 | 07.27



Association of sharia economic studies atau AcSES merupakan kelompok studi ekonomi islam yang bertujuan untuk menggali nilai-nilai luhur Al-qur’an dan Al- hadist yang berkaitan dengan bidang ekonomi dan bisnis. Serta membimbing anggota pada khususnya dan warga FEB UA pada umumnya dalam hal penalaran seperti karya tulis, bisnis plan, dan kegiatan prestatif lainnya.

AcSES dideklarasikan tanggal 20 maret 2001 bertempat di aula Fadjar Notonegoro FEB UA dihadiri oleh bapak syafi’I Antonio, bapak Drs. Ec. Suherman Rosyidi G.Dip beserta jajaran dekanat FEB UA. Pada saat itu AcSES menjadi badan semi otonom (BSO) dibawah sie kerohanian islam FEB UA.  Kemudian AcSES menjadi independen dibawah BEM FEB UA. Dalam perjalanannya AcSES menjadi anggota dari forum silaturahim studi ekonomi islam (FoSSEI) yang merupakan coordinator kelompok studi ekonomi islam seluruh Indonesia.

Ketua AcSES FEB UA
2001-2002 Arif Suharnowo
2002-2003 Arif Suharnowo
2003-2004 hardiyanto Azhari
2004-2005 Achmad Zakaria
2005-2006 Rahmat Heru Setianto
2006-2007 M. IBNU RAMDANI
2007-2008 Irvan Dwi Kurnianto
2008             Noor Rahma Hadi
2009             Nur Alian As’adi
2010             Vicky Vendy
2011             Irfan Abdillah
2012             Bayu Lukito
2013             Wahyu Wisnu W.




Artikel terkait:

Rabu, 15 Juli 2015

Apa sunah dan adab yang seharusnya kita lakukan pada hari Id?

Alhamdulillah

Termasuk sunnah yang seharusnya dilakukan seorang muslim pada hari Id adalah sebagai berikut;

1- Mandi sebelum berangkat untuk shalat Id.

Terdapat riwayat shahih dalam Kitab Al-Muwaththa dan lainnya bahwa Abdullah bin Umar mandi pada hari Id sebelum berangkat ke tempat shalat. (Al-Muwaththa, no. 428). An-Nawawi rahimahullah menyebutkan adanya kesepakatan ulama tentang disunnahkannya mandi untuk shalat Id.

Alasan yang menjadi sebab disunnahkannya mandi pada hari Jumat dan atau kesempatan lainnya saat kaum muslimin berkumpul secara umum, juga terdapat pada shalat Id, bahkan boleh jadi pada shalat Id alasan itu lebih kuat.

2- Makan sebelum shalat Id pada Idul Fitri, dan sesudahnya pada hari Idul Adha.

Termasuk adab pada hari Idul Fitri, tidak berangkat shalat sebelum memakan beberapa butir korma, sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari dari Anas bin Malik, dia berkata, 'Adalah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak berangkat pada hari Idul Fitri sebelum memakan beberapa butir korma, dan dia memakannya dengan jumlah ganjil." (HR. Bukhari, no. 953)

Disunnahkannya makan sebelum berangkat shalat sebagai penegasan dalam hal larangan puasa pada hari itu dan sebagai pengumumannya dibolehkannya berbuka dan selesainya masa puasa.

Ibnu Hajar memberikan latar belakang masalah ini, yaitu untuk menutup celah adanya tambahan dalam puasa, dan padanya terdapat sikap segera menunaikan perintah Allah. (Fathul Bari, 2/446)

Siapa yang tidak mendapatkan korma, hendaknya dia makan  sesuatu yang dibolehkan.

Adapun pada Idul Adha, maka yang disunnahkan adalah tidak makan sebelum kembali dari shalat Id. Hendaknya dia makan dari hewan kurbannya jika dia menyembelih hewan kurban, jika dia tidak memiliki hewan kurban, maka tidak mengapa dia makan sebelum shalat Id.

3- Bertakbir Pada Hari Id.

Hal ini termasuk sunnah yang agung pada hari Id, berdasarkan firman Allah Ta'ala,

ولتكملوا العدة ولتكبروا الله على ما هداكم ولعلكم تشكرون (سورة البقرة: 185)

"Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur." (QS. Al-Baqarah: 185)

Dari Walid bin Muslim dia berkata, 'Aku bertanya kepada Al-Auzai dan Malik bin Anas tentang mengeraskan takbir pada dua Hari Raya.' Mereka berdua menjawab, 'Ya, dahulu Ibnu Umar mengeraskan takbir pada hari Idul Fitri hingga imam datang."

Terdapat riwayat shahih dari Abu Abdurrahman As-Silmi, dia berkata, 'Mereka para hari Idul Fitri lebih keras dibanding Idul Adha) Waki' berkata, 'Yang dimaksud (keras) adalah bertakbir.' (Lihat Irwa'ul Ghalil 3/122)

Sedangkan Daruquthni meriwayatkan bahwa Ibnu Umar apabila berangkat untuk shaat Idul Fitri dan Idul Adha, bersungguh-sungguh untuk bertakbir hingga tiba ke tempat shalat, kemudian dia terus bertakbir hingga imam datang.

Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Az-Zuhri, dia berkata, 'Orang-orang bertakbir pada hari Id hingga mereka keluar dari rumah-rumah mereka hingga ketika mereka mendatangi tempat shalat dan hingga imam datang. Apabila imam telah datang, mereka semua diam, jika imam bertakbir, merekapun bertakbir. (Lihat Irwa'ul Ghalil, 2/121)

Ibnu Syihab Az-Zuhri rahimahullah berkata, 'Dahulu orang-orang bertakbir sejak mereka keluar dari rumah-rumah mereka hingga datangnya imam (ke tempat shalat untuk memulai shalat).

Waktu takbir dalam shalat Idul Fitri dimulai sejak malam Id hingga imam masuk (ke tempat shalat) untuk melakukan shaat Id.

Adapun dalam Idul Adha, maka takbir dimulai sejak hari pertama Dzulhijjah hingga matahari terbenam pada akhir hari tasyrik.

Tata Cara Takbir

Terdapat dalam mushannaf Ibnu Abi Syaibah dengan sanad yang shahih dari Ibnu Mas'ud radhiallahu anhu, bahwa dia bertakbir pada hari-hari Tasyrik (dengan redaksi berikut);

 الله أكبر الله أكبر لا إله إلا الله والله أكبر الله أكبر ولله الحمد.

Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Tiada tuhan yang disembah selain Allah, Allah Maha Besar, bagiNya segala puji.

Ibnu Abi Syaibah juga meriwayatkan lagi dengan redaksi yang sama, hanya saja takbirnya menjadi tiga kali.

Al-Mahamili meriwayatkan dengan sanad yang shahih juga dari Ibnu Mas'ud (redaksi berikut);

الله أكبر كبيراً الله أكبر كبيراً الله أكبر وأجلّ ، الله أكبر ولله الحمد

Allah Maha Besar, Allahu Maha Besar, Allah Maha Besar dan Agung, Allah Maha Besar, bagiNya segala puji. (Lihat Irwa'ul Ghalil, 3/126)

4- Ucapan Selamat

Termasuk adab pada hari Id adalah saling memberikan ucapan selamat yang baik satu sama lain, apapun redaksinya. Seperti ungkapan, taqabbalallahu minna wa minkum, atau, Idun Mubarak, atau yang semisalnya dalam berbagai bentuk redaksi yang dibolehkan.

Dari Jubair bin Nafir, dia berkata, 'Para shahabat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, apabila berjumpa pada hari Id, mereka satu sama lain saling mengucapkan, taqabbalallahu minna wa minka.' Ibnu Hajar berkata, sanadnya hasan (Fathul Bari, 2/446)

Pemberian ucapan selamat sudah dikenal di kalangan para shahabat, karenanya para ulama memberikan keringanan dalam hal ini, seperti Imam Ahmad dan lainnya. Terdapat riwayat yang menunjukkan disyariatkannya ucapan selamat pada moment-moment tertentu, dan juga tindakan para shahabat yang memberikan ucapan selamat ketika mendapatkan sesuatu yang membahagiakan, seperti diterimanya taubat seseorang oleh Allah Ta'ala terhadap suatu perkara, lalu mereka berdiri untuk memberikan ucapan selamat karena itu. Adapula riwayat lainnya.

Tidak diragukan lagi bahwa ucapan selamat termasuk kemuliaan akhlak dan fenomena sosial yang baik di kalangan kaum muslimin.

Paling tidak dalam masalah ini adalah anda membalas ucapan seseorang yang memberikan ucapan selamat kepada anda, atau anda diam apabila dia diam (tidak memberikan ucapan selamat), sebagaimana dikatakan oleh Imam Ahmad rahimahullah, 'Jika seseorang memberikan ucapan selamat kepadaku, maka akan aku jawab, kalau tidak, aku tidak memulainya.'

5. Berhias Pada Dua Hari Id

Abdullah bin Umar radhiallahu anhuma berkata, 'Umar radhiallahu anhu mengambil (membeli) sebuah jubah dari sutera yang dijual di pasar, lalu dia mendatangi Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, kemudian berkata, 'Wahai Rasulullah, belilah ini dan berhiaslah dengannya untuk Hari Raya dan menyambut tamu.' Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya ini adalah pakaian orang yang tidak mendapatkan bagian (di hari kiamat)" (HR. Bukhari, no. 948)

Nabi shallallahu alaihi wa sallam menyetujui tindakan Umar untuk berhias pada hari Id, akan tetapi yang dia ingkari adalah membeli baju tersebut, karena terbuat dari sutera.

Dari Jabir radhialahu anhu, dia berkata, Adalah Nabi shallallahu alaihi wa sallam memiliki gamis yang biasa beliau pakai untuk shalat dua Hari Raya dan hari Jumat. (Shahih Ibnu Khuzaimah, no. 1765)

Al-Baihaqi meriwayatkan dengan sanad yang shahih bahwa Ibnu Umar memakai pakaian yang paling bagus pada Hari Id.

Maka bagi laki-laki, hendaknya memakai pakaian yang paling bagus ketika berangkat untuk shalat Id.

Adapun wanita, hendaknya dia menjauhi perhiasan apabila dia keluar, karena dilarang baginya menampakkan perhiasan di hadapan laki-laki non mahram, demikian pula diharamkan bagi wanita yang hendak keluar untuk mengenakan wewangian atau mengundang fitnah bagi laki-laki, karena dia keluar semata-mata untuk beribadah dan ketaatan.

6- Pergi ke tempat shalat melalu suatu jalan dan kembali melalui jalan yang berbeda.

Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu anhuma, dia berkata, Nabi shallallahu alaihi wa sallam pada Hari Id menempuh jalan yang berbeda. (HR. Bukhari, no. 986)

Ada yang mengatakan bahwa hikmah dari perbuatan tersebut adalah agar kedua jalan itu menjadi saksi di hadapan Allah pada hari kiamat, sebab bumi akan berbicara pada hari kiamat terhadap kebaikan atau keburukan yang dilakukan di atasnya.

Ada pula yang berpendapat, untuk menampakan syiar Islam pada kedua jalan tersebut. atau untuk menampakkan zikir kepada Allah, atau untuk menimbulkan rasa gentar terhadap kaum munafik atau orang Yahudi dengan banyaknya orang bersamanya, atau untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, apakah untuk meminta fatwa, mengajarkan atau memenuhi segala kebutuhan, atau untuk mengunjungi kerabat dan bersilaturahim.

Wallahua'lam.

Soal Jawab Tentang Islam
===
===
***Ladang Amal Di Bulan Ramadhan Bersama Yayasan Ibnu Umar***

Bismillah

Alhamdulillah

1. Kami baru saja di wakafkan sebidang tanah dengan luas 1 hektar (10 ribu m2) di Kalimantan Barat.
Bagi anda yang ingin  membangun masjid dan sarana pendidikan Tahfidz Al Quran silahkan hubungi kami.

2. Kami baru saja membeli tanah di Tegal (wakaf bersama) seluas 2000m2 dekat Islamic Center Riadus Shalihin bagi anda yang ingin membantu membangun gedung untuk santri Tahfidz silahkan hubungi kami.

3. Kami baru saja diwakafkan tanah seluas 1300m2 di Cibodas (sedang proses) bagi anda yang ingin membangun masjid atau sarana pendidikan Tahfidz silahkan hubungi kami.

4. Kami diwakafkan sebidang tanah 200m2 (sedang proses) di Bekasi diperuntukan untuk dijual atau pembangunan rumah Tahfidz. Bagi anda yang ingin membantu membeli atau membangun hubungi kami.

5. Kami ditawarkan untuk membeli tanah seluas 190m2 seharga 190 juta di Pamulang sebagai perluasan PonPes yang ada. Jika anda ingin membantu dalam pembelian transfer ke

a/n Yayasan Ibnu Umar:

7032370327
BSM ( Bank Syari'ah Mandiri ) Cabpem. BSD Pasar Modern
(Luar negri:
Swift code BSMDIDJA)

0678074848
BCA
(Luar negri:
Swift code CENAIDJA)

1640001114422
Bank Mandiri
(Luar negri:
Swift code BMRIIDJA)
   
0285448082
BNI Syari'ah Cabpem : CIPUTAT
(Luar negri:
Swift code : BNINIDJA)

Format konfirmasi setelah transer

Nama-wakaf pamulang-besar uang-nama bank-tgl

Contoh:
Ahmad-wakaf pamulang-1jt-bsm-3/7/2015

Nomor di bawah ini untuk konfirmasi transfer dan info lainnya
081311354392
081212837394
Pin  5438E62A

Silahkan bantu sebar luaskan semoga Allah

sumber: line acses

Mari Ucapkan Yang Benar



Sejalan dengan akan datangnya IDUL FITRI sebentar lagi, sering kita dengar tersebar ucapan:
“MOHON MAAF LAHIR & BATHIN ”.
Seolah-olah saat Idul Fitri hanya khusus dengan ucapan semacam itu.

Idul Fitri bukanlah waktu khusus untuk saling maaf memaafkan.
Memaafkan bisa kapan saja tidak terpaku dihari Idul Fitri. Demikian Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam

Tidak ada satu ayat Qur'an ataupun suatu Hadits yang menunjukkan keharusan mengucapkan “ Mohon Maaf Lahir dan Batin ” disaat-saat Idul Fitri.

Satu lagi, ucapan yang sering keluar saat Idul Fitri, yakni ucapan :
"MINAL 'AIDIN WAL FAIZIN".
Arti dari ucapan tersebut adalah :
“ Kita kembali dan meraih kemenangan ”
KITA MAU KEMBALI KEMANA ?
Apa pada ketaatan atau kemaksiatan ?

Meraih kemenangan ? Kemenangan apa ? Apakah kita menang melawan bulan Ramadhan sehingga kita bisa kembali berbuat keburukan ?

Satu hal lagi yang mesti dipahami, setiap kali ada yang ucapkan
“ Minal ‘Aidin wal Faizin ”
lantas diikuti dengan kalimat “ Mohon Maaf Lahir dan Batin ”.
Karena mungkin kita MENGIRA artinya adalah kalimat selanjutnya.

Coba saja sampaikan kalimat itu pada saudara-saudara seiman kita di Pakistan, Turki, Saudi Arabia atau negara-negara lain.... PASTI PADA BENGONG BIN BINGUNG...!! ^^

Ucapan yang lebih baik dan dicontohkan langsung oleh para sahabat Rasulullah SAW, yaitu :
“Taqobbal Allahu minna wa minkum "
( Semoga Allah menerima amalku dan amal kalian )

Jadi lebih baik, ucapan / SMS /BBM kita :
" Selamat  Idul Fitri. Taqobbal Allahu minna wa minkum "
( Semoga Allah menerima amalku dan amal kalian )

Semoga risalah ini bermanfaat dan saling berbagi niat untuk meluruskan yang selama ini terjadi...
Silahkan disebarkan.
Baraka Allah fiikum.... ^^

Note :
Untuk kalimat : "Mohon maaf lahir & bathin" bahasa arabnya adalah
AS'ALUKAL AFWAN MINAL DZAHiRAN WAL BATHINIAH.

Taqabbalallahu Minna wa Minkum, Shiyamana wa Shiyamikum wa Ahalahullahu ‘Alaik
(Semoga Allah menerima <amalan> dari kami dan darimu, juga diterima-Nya puasaku dan puasamu sekalian, serta semoga Allah menyempurnakannya)

MINAL AIDIN WAL FAIDZIN agar memiliki arti yg jelas adalah "Ja‘alanallahu Minal Aidin wal Faidzin"
(semoga Allah menjadikan kita bagian dari orang-orang yang kembali <fitrah/suci> & orang-orang yang menang)


Ustadz Arya :
Dari Jubair bin Nufair, ia berkata bahwa jika para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berjumpa dengan hari ‘ied (Idul Fithri atau Idul Adha, pen), satu sama lain saling mengucapkan, “Taqobbalallahu minna wa minka (Semoga Allah menerima amalku dan amal kalian).” Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan.
[Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Asqolani, Darul Ma’rifah, 1379, 2/446.]



By Ust. Arya Abie adham


sumber: line acses

Sabar dan Ridha

📌Sabar itu Rute yg Wajib Dilewati  Sedangkan Ridha itu Puncak yg Dituju

📎Secara bahasa sabar artinya tertahan. Orang Arab mengatakan, “Qutila fulan shabran” (artinya si Fulan dibunuh dalam keadaan “shabr”) yaitu tatkala dia berada dalam tahanan atau sedang diikat lalu dibunuh, tanpa ada perlawanan atau peperangan.

📎Demikianlah inti makna kesabaran yang dipakai dalam pengertian syar’i. Ia disebut sebagai sabar karena di dalamnya terkandung penahanan lisan untuk tidak berkeluh kesah, menahan hati untuk tidak merasa marah dan menahan anggota badan untuk tidak mengekspresikan kemarahan dalam bentuk menampar-nampar pipi, merobek-robek kain dan semacamnya. Maka menurut istilah syariat, sabar artinya: “Menahan lisan dari mengeluh, menahan hati dari marah dan menahan anggota badan dari menampakkan kemarahan dengan cara merobek-robek sesuatu dan tindakan lain semacamnya.”

Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Di dalam Al Quran kata sabar disebutkan dalam 90 tempat lebih. Sabar adalah bagian iman, sebagaimana kedudukan kepala bagi jasad. Sebab orang yang tidak punya kesabaran dalam menjalankan ketaatan, tidak punya kesabaran untuk menjauhi maksiat serta tidak sabar tatkala tertimpa takdir yang menyakitkan maka dia kehilangan banyak sekali bagian keimanan.”
(At Tamhiid, hal. 389-391).

🔖Kata Mudah dlm Memahami Sabar
👉Sabar itu khan kemampuan utk menikmati proses.....

👉Kata para pengusaha kegagalan itu awal dari kesuksesan. Iya ini benar sekali tapi bagi orang yg sabar mau menikmati proses.

🍀Maka sabar itu kebahagian bagi seorang mukmin

🌹Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
عجبا لأمر المؤمن إن أمره كله خير وليس ذاك لأحد إلا للمؤمن إن أصابته سراء شكر فكان خيرا له وإن أصابته ضراء صبر فكان خيرا له

“Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin. Semua perkara (yang menimpanya) adalah kebaikan baginya dan tidaklah hal ini terjadi kecuali hanya pada diri seorang mukmin. Jika dia tertimpa Kelapangan dia bersyukur maka hal ini adalah baik (kebahagian)  baginya. Dan jika tertimpa kesempitan dia bersabar maka itu juga baik (kebahagiaan)  baginya.” (HR. Muslim)

🌹Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

واعلم أن النصر مع الصبر ، وأن الفرج مع الكرب ، وأن مع العسر يسرا

“Dan ketahuilah, sesungguhnya kemenangan itu beriringan dengan kesabaran. Jalan keluar beriringan dengan kesukaran. Dan sesudah kesulitan itu akan datang kemudahan.” (Hadits riwayat Abdu bin Humaid di dalam Musnad-nya dengan nomor 636, Ad Durrah As Salafiyyah hal. 148)


❤Bedanya Sabar dg Ridha:

👉Kalau sabar berusaha menikmati proses tp masih merasakan penderitaan atau rasa sakit.

👉Sedangkn ridha itu bener2 menikmati proses shg derita pun tdk terasa olehnya...seolah sudah tidak ada derita meski derita itu ada.


🍀Maka naikkan level beragama kita dari SABAR ke RIDHA dg ketentuan Allah.


🔖Syaikh Shalih bin Abdul ‘Aziz Alusy Syaikh hafizhahullah ta’ala menjelaskan:

“Hukum merasa ridha dengan adanya musibah adalah mustahab (sunnah), bukan wajib. Oleh karenanya banyak orang yang kesulitan membedakan antara ridha dengan sabar. Sedangkan kesimpulan yang pas untuk itu adalah sebagai berikut.

Bersabar menghadapi musibah hukumnya wajib, dia adalah salah satu kewajiban yang harus ditunaikan. Hal itu dikarenakan di dalam sabar terkandung meninggalkan sikap marah dan tidak terima terhadap ketetapan dan takdir Allah.

Adapun ridha memiliki dua sudut pandang yang berlainan:

1⃣Sudut pandang pertama, terarah kepada perbuatan Allah jalla wa ‘ala.
➡Seorang hamba merasa ridha terhadap perbuatan Allah yang menetapkan terjadinya segala sesuatu.
➡Dia merasa ridha dan puas dengan perbuatan Allah.
➡Dia merasa puas dengan hikmah dan kebijaksanaan Allah.
➡Dia merasa ridha terhadap pembagian jatah yang didapatkannya dari Allah jalla wa ‘ala.

⚠Rasa ridha terhadap perbuatan Allah ini termasuk salah satu kewajiban yang harus ditunaikan. Meninggalkan perasaan itu hukumnya haram dan menafikan kesempurnaan tauhid.

2⃣Sudut pandang kedua, terarah kepada kejadian yang diputuskan, yaitu terhadap musibah itu sendiri.

Maka hukum merasa ridha terhadapnya adalah mustahab.
➡Bukan kewajiban atas hamba untuk merasa ridha dengan sakit yang dideritanya.
➡Bukan kewajiban atas hamba untuk merasa ridha dengan sebab kehilangan anaknya.
➡Bukan kewajiban atas hamba untuk merasa ridha dengan sebab kehilangan hartanya.

Namun hal ini hukumnya mustahab (disunahkan)".
(At Tamhiid, hal. 392-393).

📌Menuju Puncak dlm Beragama

👉 Puncak dlm mengambil hukum Allah itu Taslim (menerima sepenuh hati dg semua syariat Allah)

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Allah Ta'ala berfirman:
"Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya".
{Qs. An-Nisa' (4:65)}

Allah Ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Tidaklah pantas bagi seorang lelaki yang beriman, demikian pula perempuan yang beriman, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu perkara lantas masih ada bagi mereka pilihan yang lain dalam urusan mereka. Barangsiapa yang durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang amat nyata.” (QS. Al-Ahzab: 36)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan ayat di atas, “Ayat ini bersifat umum mencakup segala permasalahan. Yaitu apabila Allah dan Rasul-Nya telah memutuskan hukum atas suatu perkara, maka tidak boleh bagi seorang pun untuk menyelisihinya dan tidak ada lagi alternatif lain bagi siapapun dalam hal ini, tidak ada lagi pendapat atau ucapan -yang benar- selain itu.” (lihat Tafsir al-Qur’an al-’Azhim [6/423] cet. Dar Thaibah)
👉 Puncak dlm menerima takdir Allah itu Ridha (menerima dan menikmati ketentuan Allah)

👉 Puncak dlm beribadah itu Ihsan (beribadah seolah melihat Allah,  klu pun tidak melihat Allah maka sesungguhnya Allah maha melihat hambaNya)


Sebagaimana kita diajarkan Nabi dalam berdoa untuk meminta surga Firdaus yg tertinggi maka berbekalah untuk meraih puncak surga tadi dengan menuju puncak ketaatan dan amal sholih..


Semoga bermanfaat.

🏡Desa Krasak Kec. Brebes,  Kab. Brebes
📅Hari Rabu,  28 Ramadhan 1436 (15 Juli 2015)


📝Tauhiddin Ali Rusdi Sahal
(Pemateri Kajian Kitab Tazkiyatun Nufus Via Wa dan Telegram)

☎ dan Wa 👉0858 6532 7524
FB Tauhiddin Ali Rusdi Sahal

👉Zakat, Infak dan Donasi Dakwah  ke Bank CIMB NIAGA no rek. 535 01 32118 111.📝 kode bank CIMB NIAGA 022. Pemberitahuan kiriman sms /wa ke no. 0858 6532 7524📌

MEA: Masyarakat Ekonomi Asean

Apa itu Masyarakat Ekonomi Asean?

Lebih dari satu dekade lalu, para pemimpin Asean sepakat membentuk sebuah pasar tunggal di kawasan Asia Tenggara pada akhir 2015 mendatang.
Ini dilakukan agar daya saing Asean meningkat serta bisa menyaingi Cina dan India untuk menarik investasi asing. Penanaman modal asing di wilayah ini sangat dibutuhkan untuk meningkatkan lapangan pekerjaan dan meningkatkan kesejahteraan.
Pembentukan pasar tunggal yang diistilahkan dengan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) ini nantinya memungkinkan satu negara menjual barang dan jasa dengan mudah ke negara-negara lain di seluruh Asia Tenggara sehingga kompetisi akan semakin ketat.

Bagaimana itu mempengaruhi Anda?

Masyarakat Ekonomi Asean tidak hanya membuka arus perdagangan barang atau jasa, tetapi juga pasar tenaga kerja profesional, seperti dokter, pengacara, akuntan, dan lainnya.
Staf Khusus Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Dita Indah Sari, menjelaskan bahwa MEA mensyaratkan adanya penghapusan aturan-aturan yang sebelumnya menghalangi perekrutan tenaga kerja asing.
"Pembatasan, terutama dalam sektor tenaga kerja profesional, didorong untuk dihapuskan," katanya.
"Sehingga pada intinya, MEA akan lebih membuka peluang tenaga kerja asing untuk mengisi berbagai jabatan serta profesi di Indonesia yang tertutup atau minim tenaga asingnya."

Apakah tenaga kerja Indonesia bisa bersaing dengan negara Asia Tenggara lain?

Sejumlah pimpinan asosiasi profesi mengaku cukup optimistis bahwa tenaga kerja ahli di Indonesia cukup mampu bersaing.
Ketua Persatuan Advokat Indonesia, Otto Hasibuan, misalnya mengatakan bahwa tren penggunaan pengacara asing di Indonesia malah semakin menurun.
"Pengacara-pengacara kita, apalagi yang muda-muda, sudah cukup unggul. Selama ini kendala kita kan cuma bahasa. Tetapi sekarang banyak anggota-anggota kita yang sekolah di luar negeri," katanya.
Di sektor akuntansi, Ketua Institut Akuntan Publik Indonesia, Tarko Sunaryo, mengakui ada kekhawatiran karena banyak pekerja muda yang belum menyadari adanya kompetisi yang semakin ketat.
"Selain kemampuan Bahasa Inggris yang kurang, kesiapan mereka juga sangat tergantung pada mental. Banyak yang belum siap kalau mereka bersaing dengan akuntan luar negeri."
Bagaimana Indonesia mengantisipasi arus tenaga kerja asing?
Staf Khusus Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Dita Indah Sari, menyatakan tidak ingin "kecolongan" dan mengaku telah menyiapkan strategi dalam menghadapi pasar bebas tenaga kerja.
"Oke jabatan dibuka, sektor diperluas, tetapi syarat diperketat. Jadi buka tidak asal buka, bebas tidak asal bebas," katanya.
"Kita tidak mau tenaga kerja lokal yang sebetulnya berkualitas dan mampu, tetapi karena ada tenaga kerja asing jadi tergeser.
Sejumlah syarat yang ditentukan antara lain kewajiban berbahasa Indonesia dan sertifikasi lembaga profesi terkait di dalam negeri.

Apa keuntungan MEA bagi negara-negara Asia Tenggara?

Riset terbaru dari Organisasi Perburuhan Dunia atau ILO menyebutkan pembukaan pasar tenaga kerja mendatangkan manfaat yang besar.
Selain dapat menciptakan jutaan lapangan kerja baru, skema ini juga dapat meningkatkan kesejahteraan 600 juta orang yang hidup di Asia Tenggara.
Pada 2015 mendatang, ILO merinci bahwa permintaan tenaga kerja profesional akan naik 41% atau sekitar 14 juta.
Sementara permintaan akan tenaga kerja kelas menengah akan naik 22% atau 38 juta, sementara tenaga kerja level rendah meningkat 24% atau 12 juta.
Namun laporan ini memprediksi bahwa banyak perusahaan yang akan menemukan pegawainya kurang terampil atau bahkan salah penempatan kerja karena kurangnya pelatihan dan pendidikan profesi.

(
@Dede Prahasta)

Minggu, 24 Mei 2015

Menggagas Sekolah Nazhir




Wakaf, sebagai bagian dari syariat Islam, merupakan salah bukti bahwa Islam memperhatikan isu pemberdayaan ekonomi umat. Wakaf adalah salah satu bentuk pengelolaan harta dengan menahan pokok dari suatu harta; dan memberikan manfaatnya untuk digunakan di jalan Allah; serta harta tersebut tidak boleh dijual, dihibahkan, maupun diwariskan.

Wakaf memiliki dua dimensi, yakni ibadah dan sosial. Dimensi ibadah wakaf tecermin dari hadis Rasulullah saw. Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw bersabda, “Apabila salah seorang manusia meninggal dunia, terputuslah segala amalannya, kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat baginya, dan anak saleh yang selalu mendoakannya.” (HR Muslim, no. 3084).


Dimensi sosial wakaf terlihat dari fakta bahwa wakaf adalah suatu instrumen pengelolaan harta yang dapat dipergunakan untuk memakmurkan ekonomi umat dan memberdayakan masyarakat yang tergolong duafa.

Di Indonesia, wakaf sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan umat Islam telah diakui oleh hukum positif yang berlaku di republik ini melalui pengesahan Undang-Undang Nomor  41 Tahun 2004 tentang Wakaf dan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2006 tentang pelaksanaan UU tersebut. Saat ini pun telah berdiri Badan Wakaf Indonesia (BWI) sebagai nazhir wakaf di tingkat nasional dan pengawas semua nazhir wakaf yang berada di Indonesia.

Perkembangan terkini dari wakaf di Indonesia cukup mencengangkan. Menurut data Kementerian Agama RI pada tahun 2010, jumlah lokasi tanah wakaf di Indonesia sebanyak 414.848 lokasi dengan luas tanah 2.171.041.349,74 meter persegi danhampir 95 persen aset wakaf belum dimanfaatkan secara optimal. Sebuah studi lain yang dilakukan oleh Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2010 mengungkapkan bahwa jumlah unit wakaf yang terdata mencapai hampir 363.000 wakaf berupa lahan yang tersebar di berbagai wilayah yang nilainya mencapai Rp590 triliun.

Meskipun memiliki aset wakaf yang tergolong luas dan bernilai ekonomis besar, belum optimalnya pengelolaan wakaf di Indonesia menunjukkan bahwa pengelolaan wakaf di Indonesia masih memiliki permasalahan yang harus diselesaikan.Pertama, pola pengelolaan wakaf di Indonesia masih belum diarahkan menuju pengelolaan produktif. Masih banyak masyarakat yang berpikir bahwa wakaf hanyalah berupa tanah dan digunakan untuk masjid, sekolah, dan pemakaman yang tidak menghasilkan nilai ekonomis. Meskipun tujuan peribadatan wakaf tercapai, namun jika wakaf hanya berupa aset tersebut saja maka aset wakaf justru menjadi beban bagi masyarakat.

Kedua, sumber modal bagi pengelolaan wakaf yang masih bergantung dari dana sosial masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa aset wakaf belum dapat dijalankan secara mandiri. Ketiga, nazhir wakaf masih belum profesional dan kreatif dalam mengelola aset wakaf. Hal ini terlihat dari banyaknya masjid dan aset-aset wakaf lainnya yang terbengkalai.

Khusus terkait permasalahan nazhir, profesionalitas dan kreativitas mereka selaku pemegang amanah dari wakif menjadi sangat mutlak dibutuhkan. Nazhir dapat diibaratkan sebagai manajer investasi dalam dunia pasar modal, yang memiliki keahlian dan kewenangan mengelola portofolio aset investor untuk dapat menghasilkan keuntungan bagi investor. Manajer investasi yang tidak profesional tentu akan merugikan investor. Demikian pula nazhir, harus profesional agar dapat menjaga kepercayaan wakif.

Untuk dapat meningkatkan profesionalitas nazhir maka diperlukan suatu lembaga yang dapat menjadi wadah pendidikan dan pelatihan bagi para nazhir. Konsep semacam Sekolah Nazhir (School of Nazhir) selayaknya dapat diajukan.

Sekola Nazhir dapat diaplikasikan menjadi suatu lembaga yang mewadahi pelatihan bagi para calon nazhir yang ingin mendapat pengakuan dalam pengelolaan aset wakaf. Lembaga ini dapat berada di bawah hierarki organisasi BWI secara langsung.

Beberapa materi yang selayaknya diajarkan dalam Sekolah Nazhir ialah (1) dasar-dasar keislaman, (2) fikih muamalah khususnya wakaf, (3) manajemen keuangan dan investasi, dan (4) isu kontemporer perwakafan.

Kehadiran Sekolah Nazhir dapat membawa dampak positif. Di antaranya (1) standarisasi pengelolaan wakaf di Indonesia dapat terwujud, (2) sumber daya insani dalam pengelolaan wakaf dapat dipertanggungjawabkan kredibilitasnya, dan (3) nazhir akan memiliki pengakuan terkait profesionalitasnya dalam mengelola aset wakaf.

Dengan adanya Sekolah Nazhir, maka dalam jangka panjang, potensi aset wakaf yang berada di Indonesia dapat dikelola oleh SDM-SDM profesional sehingga manfaat wakaf akan semakin terasa bagi umat dan masyarakat luas.[]

Penulis: Imam Wahyudi Indrawan
Direktur Umum AcSES, Mahasiswa Universitas Airlangga, Jurusan Ekonomi Islam

Diambil dari: http://bwi.or.id/index.php/publikasi/artikel/1558-menggagas-sekolah-nazhir

Sumber Ilustrasi: blog.uad.ac.id

Jangan Menghitung Untung Rugi, Perjuanganmu untuk Negri



“Jangan menghitung untung rugi, perjuanganmu untuk negri”
            
Kalimat tersebut merupakan perkataan Ir.Soekarno yang terpajang di salah satu sisi museum angkut kota Batu. Itulah yang mencoba dilaksanakan delegasi BEM FEB dalam rangkaian acara Temu Ilmiah BEM FEB se-Jawa Bali di UMM 12-14 Mei kemarin. Dengan minimnya persiapan dan di tengah sibuknya rangkaian kegiatan lain akhirnya kami, Tri Lestari, Alqoma Subkhi, dan Suci Nur Aini melaju dengan bonek (bondo nekat).
            
Dewan Pertimbangan Presiden dan Wakil Ketua DPR RI, berbagi banyak ilmu dan menceritakan tentang Indonesia dan perkembangannya. Walikota Batu serta DPRD Malang memaparkan dari sisi lain untuk membangun negri dari bawah. Beruntung salah satu dari kami mendapat kesempatan untuk bertanya dengan salah satu pembicara. Dengan bekal materi tersebut, hari selanjutnya sidang komisi dan sidang pleno diberlangsungkan. Delegasi Universitas Airlangga, Universitas PGRI Kediri, dan Universitas Muhammadiyah Surakarta tergabung dalam Komisi 4 yang membahas tentang “Regulasi sebagai penunjang roda perekonomian Indonesia”. Delegasi dari UNAIR, Tri Lestari menjadi Ketua sidang Komisi 4 dan dibantu Nanang dari UMS sebagai notulen. Sidang komisi selama kurang lebih 2 jam membuahkan menghasilkan 4 poin permasalahan tentang regulasi beserta solusinya. Kemudian di sidang Pleno, masing-masing ketua komisi memaparkan hasil sidang komisinya. Dengan diskusi terbuka akhirnya setiap permasalahan yang telah dirumuskan menemukan titik temu solusinya. Disini kami menemukan simulasi persidangan para pengurus negara, dan siap menjadi penerusnya yang lebih baik.
            
Namun ilmu yang kami dapat sesungguhnya pada tiap-tiap diskusi non formal dengan delegasi yang lain. Sebuah keadaan kontras dengan apa kami dapati di perkuliahan biasanya. Ketika mahasiswa lain sibuk memikirkan baju apa yang sedang trend, tempat nongkrong mana yang lagi hits, atau kuliah besok akan TA, diantara mahasiswa yang kami temui kemarin telah memikirkan hal yang lebih besar tentang INDONESIA. Melalui acara tersebut setidaknya pemikiran kita telah tertampung dan akan disampaikan pada Watimpres. Kami bersama-sama membangun pemikiran bagaimana mensejahterakan rakyat Indonesia dengan sektor ekonomi. “Sistem ekonomi Indonesia itu unik, kita bukan kapitalis tapi juga bukan sosialis. Sehingga sampai saat ini Indonesia masih belum menemukan identitas ekonominya.” Perkataan dari ketua komisi 4 yang juga disetujui yang lain. Dikatakan system ekonomi Indonesia adalah system ekonomi kerakyatan, namun kenyataannya belum terlaksana sepenuhnya. 

Dari diskusi nonformal salah seorang dari UII mengatakan bahwa setiap system pasti mengandung kapitalis untuk bertahan, begitu pula di Indonesia. Dan hampir semua menolak kejamnya kapitalis, sehingga peranan kita sebagai mahasiswa menentukan perubahan yang ada di Indonesia. Disini kami sedang memperjuangkan ekonomi kerakyatan yang sesungguhnya untuk kesejahteraan rakyat. Misi ini selaras dengan misi yang dibawa oleh ekonomi islam, untuk kesejahteraan umat. Semoga dilain kesempatan, ada forum seperti ini yang dapat menjadi wadah pemikiran kita dalam rangkaian perjuangan kita untuk kesejahteraan. Dan yang terpenting kita butuh pergerakan, aksi nyata untuk merealisasikannya. Atas nama kesejahteraan rakyat, mari kita bumikan Ekonomi yang ideal dan barokah, Ekonomi Islam. (Tri Lestari)

Kelompok SGD Acsesor

 
Powered By Blogger

Kontributor

a

a